#NA5 Kangen Malang

Postingan ini sudah mengendap selama berminggu-minggu. Pasalnya aku sekarang sedang mengikuti tantangan 30 Hari Bercerita di instagram. Sehingga, sulit untuk menulis aktif di dua platform yang berbeda. Dan ini adaah postingan terakhir untuk Tantang Nulis Asyik, karena untuk selanjutnya aku ingin menulis apa saja yang aku mau, bukan berdasarkan tema, hehe.

Nah, untuk tantangan NA5 kali ini tentang apa yang dirindukan dari Malang. Beberapa hari lalu, aku sedang berada di Malang, sedang liburan musim panas. Sebelumnya, aku telah berkuliah selama satu semester di Monash University, jurusan Applied Linguistics. Selama 6 bulan tersebut, aku tidak terlalu merasakan homesick, kecuali ketika Idul Adha kala itu, mungkin karena banyak makanan Indonesia yang bisa dibeli di Melbourne dan banyak teman-teman Indonesia yang sekaligus menjadi keluarga baruku.

Sekarang aku sudah kembali ke Melbourne dan memang ada hal yang kadang aku rindukan dari kampng halamanku ini.

Continue reading “#NA5 Kangen Malang”

Advertisements

IELTS Material

Grammar

Vocabulary

Writing

Practice

This slideshow requires JavaScript.


If the link doesn’t work, please contact me so I can fix it. πŸ™‚

(updated May 4th, 2017)

#NA4 Ayah dan Ibu

Topik tantangan kali ini adalah tentang orang-orang terdekat yang mengispirasi kita, dan tentu saja bapak dan ibu adalah orang terdekat yang menginspirasiku.

Ayah.

Ayah adalah anak pertama, dan aku juga anak pertama. Itu adalah salah satu sebab dan alasan utama kenapa aku menjadikan ayah sebagai panutan. Aku merasa aku dan ayah senasib seperjuangan karena sama-sama anak pertama. Jika kamu tidak tahu rasanya menjadi anak pertama, mari aku jelaskan.

Continue reading “#NA4 Ayah dan Ibu”

Jalan-Jalan ke Kampung Wisata Topeng Malang dan Coban Bidadari

Minggu pagi sebenarnya sudah aku jadwalkan untuk lari pagi. Namun entah kenapa saat itu aku merasa bosan sekali untuk melangkahkan kaki ke stadion. Alih-alih berolahraga, aku memutuskan untuk menarik selimut dan kembali terlelap. Tidak tidur lagi setelah sholat subuh memang tanntangannya sangat luar biasa.

Aku bangun pukul 7, lalu segera mengecek instagram. Memang kids zaman now. Ternyata ada DM dari Rofi, teman sesama PSLD dan Akartuli, yang mengajak ke CFD (Car Free Day) Malang. Ya tentu aku mau lah. Segera aku mempersiapkan diri dan memesan abang grab. Aku sekarang lebih suka memakai jasa grab daripada jasa ojek online satunya karena lebih murah.

“Jangan lupa bawa helm sendiri” kata Rofi.

Continue reading “Jalan-Jalan ke Kampung Wisata Topeng Malang dan Coban Bidadari”

Review Lipstick: NYX, NARS, dan Savvy

Kali aku mau bahas lipstick yang paling aku sering pakai akhir-akhir ini. Dan tentu saja review ini tanpa swap di bibir ya, haha karena malu lah 😌

1. NYX Soft Matte

Dari kiri ke kanan: Amsterdam, Milan, Monte Carlo, dan Addis Ababa. Aku beli keempat-empatnya seharga 20$AUD melaui group facebook online yang menurutku harganya murah banget. Kalau di Price Line, 1 soft matte Nyx bisa seharga 9$-10$.

Ada dua warna merah yang aku suka yaitu pertama Amsterdam yang sedikit ke orange-orange-an dan Monte Carlo yang merah ya sedikit maroon, sehingga tidak terlalu norak di bibir. Namun akhir-akhir ini aku jarang pakai merah karena sedang pengen pasang image humble dan terlalu ‘rad’ atau fierce<<<<
, warna Milan adalah warna yang sangat lembut, tetapi karena bibirku kecoklatan, kalau aku pakai warna ini jadi agak fuschia jadinya. Apalagi, Addis Ababa, jadinya sangat sangat fuschia.Nah, dari segi tekstur, Nyx tipe ini sangat lembut, ringan, dan tidak terlalu cepat. Tapi sekalinya kering, tidak membekas di sedotan atau tangan (coba aja).

Jadi kalau kamu tidak suka matte yang terlalu tebal, aku sarankan kamu pakai Nyx soft matte saja. Namun saynagnya lipstik ini cepat hilang kalau dibuat makan. Continue reading “Review Lipstick: NYX, NARS, dan Savvy”

#NA3 The 6 Reasons Why I Write

G’day mate! (me trying to say in the Australian way). *uhuk 😌😌

Yesterday I was gibbering about ex-boyfriends. Today I’m about to tell something that might a bit handy on why you should start to write too. So, here we go, some of the causes why I like to write on the blog:

 

1. Playing with the HTML Code

200

When I was in 9th grade, I got computer subject. One of the lessons was about how to make a website. My teacher taught us how to make a static and dynamic website. Unfortunately, I forget what’s the difference and I do not know whether WordPress is included in static or dynamic. Yet, I do remember vividly that once I had been taught how to make an HTML page from a blank A4 paper size page. It was so cool! He also taught us how to add some pictures, words, and music there. It is such an unfortunate that I forgot how to do those things.

After making the HTML page, he taught us how to make a blog. We used Blog spot at that time. He gave us some tricks about editing Blogspot theme, use the HTML, etc. I was amazed by the HTML things.

So, when I was in high school, I started to write on a blog, but I did not write much. I was busy with my own drama, my boyfriend, as I told you in the previous post, haha.

Then, I began to actively write on my Blogspot and my Tumblr page when I was in college. I also like Tumblr because I can edit the HTML code too. However, I moved to WordPress because I would like to focus on my writing than playing with the HTML code. It is very easy using WordPress because there are a bunch of free theme template that we can use without editing the HTML, but it was also the minus of this WordPress. We can’t edit the HTML unless using the premium one.

(Actually, I wanted to take Information Technology as my bachelor degree but my parents did not give them their blessing) Continue reading “#NA3 The 6 Reasons Why I Write”

#NA2 Ex-boyfriends

I don’t mind talking about ex-boyfriends. I don’t have any feelings for them anymore, and I wonder why I was so crazy in love with them. πŸ€¦πŸ»β€β™€οΈπŸ€¦πŸ»β€β™€οΈπŸ€¦πŸ»β€β™€οΈπŸ€¦πŸ»β€β™€οΈ Anyway, I never write about ex-boyfriends before, except the last one though.

I have three exes. (Mantan gebetan ga termasuk kan?). If gebetan is included, I don’t remember how many gebetan that I had because I never included them as a ‘serious relationship’. I don’t know what is gebetan in English, I don’t think they have the concept of gebetan.

The first and the second one when I was in senior high school. The third one is when I was in college. When I was in 10th grade, my school has 8 classes for 10th grade, I was included in X3. Saputra and Setio, not their real name, also in X3. At first, Setio and I were a best friend, but actually, I did like him, more than a friend. I don’t know why I liked him, it was so stupid. He was a bad guy, and I used to love bad guys. *ugh *I know 😏

original

Continue reading “#NA2 Ex-boyfriends”

#NA1 Tantangan Menulis Asyik

WhatsApp Image 2017-12-20 at 10.35.39 AM

Waktu itu aku sedang menganggur sekali. Aku sedang libur musim panas selama 4 bulan. Iya, 4 bulan, aku tidak salah ketik, mulai dari November sampai Februari. Pada tanggal 4 Desember, aku pulang ke Indonesia. 2 minggu pertama aku sering sekali jalan dengan keluargaku, family time. Lalu, minggu ini orangtuaku sedang pergi umrah, jadi aku mengurangi frekuensi main di luar karena aku merasa tidak enak jika orangtua pergi umroh lalu aku main-main ke luar.

Pagi hari aku menghabiskan waktu dengan jogging di stadion Universitas Muhammadiyah Malang yang dekat dengan rumahku. Setelah dari situ, aku benar-benar tidak ada kerjaan.

Lalu, aku memutuskan untuk blogwalking ke semua teman Obrolin. Nah ketika blogwalking, sampailah aku pada blognya vera tentang menulis asyik ini. Temanya lucu-lucu apalagi yang nomor 10. πŸ˜†Β Jadi, aku langsung tertarik dan mengubungi Vera untuk ikut tantangan ini. Apalagi aku sedang liburan, dan menulis adalah salah satu cara untuk menjadi produktif. Karena, seriously, beberapa hari lalu aku hanya menghabiskan waktu dengan membaca, main instagram, dan main Hay Day. Hina.Β πŸ˜‚

Ohya, salam kenal Mbak Risda dan Mbak Evin yang sudah duluan mengikuti tantangan menulis ini. Salam kenal!

So, see you at my next post about ex-boyfriend(s)!Β πŸ˜‚

Daftar Beasiswa LPDP

Hi! Post ini aku buat karena banyak teman-teman yang bertanya apa langkah-langkah mendaftar beasiswa setelah lulus S1. Karena banyak yang bertanya, jadi aku fikir lebih mudah untuk membuat sebuah post lalu aku tinggal memberikan tautan ke blog ini. 😌 (Dan membuat liburanku lebih berfaedah dan produktif, haha.) 😝

Postingan kali ini aku akan fokus pada tahap-tahap mendaftar beasiswa LPDP, karena aku tahunya beasiswa ini. Aku pernah mencoba beasiswa lain, Australia Award dan Chevening, tetapi membaca persyaratannya saja aku sudah tidak eligible karena beasiswa tersebut mensyaratkan pengalaman kerja beberapa tahun. Padahal aku masih freshgraduate dan pengalaman kerjaku masih beberapa bulan. Continue reading “Daftar Beasiswa LPDP”

Disability is not an Exceptional

Hi! I’d like to talk about disability today πŸ™‚ Sebenarnya ini bukan kapasitasku, tapi aku ingin membagikan apa yang sudah aku pelajari dan apa yang aku pahami. So, have you ever heard about Stella Young? If you haven’t, I suggest you watch this video first before you start reading this post:

I’m not your inspiration.


 

I really like this quote that I took from the video:

“I’m here to tell you that we have been lied to about disability. We have been sold the lie that the disability is a bad thing, and to live with disability,  make you exceptional. It is not a bad thing and it does not make you exceptional.”

– Stella Young

Nah, kita mempunyai persepsi yang berbeda tentang bagaimana menghadapi orang difabel. Ada tiga persepsi yang aku temui di sekitarku. Pertama, persepsi bahwa orang difabel harus selau dikasihani karena mereka tidak normal, kekurangan, dan banyak yang tidak bisa mereka lakukan.

Persepsi kedua, orang difabel adalah orang yang kena ‘kutukan’, I can’t find the exact word but you know what I mean, right? Orang yang dulunya berbuat salah entah dianya sendiri atau orangtuanya sehingga Tuhan memberikan adzab ke orang tersebut. Serius, ada orang yang berfikiran seperti itu, because somebody told me that few years ago. Orang-orang yang mempunyai tipe perspektif yang kedua ini juga berfikiran bahwa semua orang difabel itu harus berbuat baik, kalau dia berbuat buruk maka contoh komentar yang akan dia dapatkan adalah, “Duh udah difabel masih aja ngeyel.” Misalnya seperti itu. Dan bahkan masih ada beberapa orang yang memakai kata cacat ketika menyebut orang-orang difabel, yang aku sendiri merasa risih ketika ada orang yang menggunakan tersebut.

Lalu, persepsi yang ketiga, bahwa semua orang itu sebenarnya tidak normal, bahwa kita sendiri tidak bisa mendefinisikan normal seperti apa, bahwa orang difabel itu adalah orang-orang biasa sama seperti kebanyakan manusia lainnya, bahwa tidak exceptional dan tidak perlu dikasihani berlebihan. Intinya, kita semua manusia yang setara. Perkara normal atau tidak normal, akupun sebenarnya tidak normal karena aku pakai kacamata minus plus silinder, gigiku juga tidak normal karena aku gingsul (which actually makes me cuter, haha 😌😝). Well, normal yang aku yakini hanyalah masalah persepsi.

Continue reading “Disability is not an Exceptional”