3

Enrolling at The Campus and Going to The City

Kemarin, Selasa, 11 Juli 2017 adalah waktunya daftar ulang di Monash University. Ketika aku masuk kelas, aku disambut oleh ibu-ibu ramah untuk mengambil formulir. Di kelas sudah ada beberapa mahasiswa. Ada yang dari Bali, China, US, Colorado, Arab, dan lain-lainnya. Benar-benar kelas international dengan berbagai budaya. Aku sempat minder waktu itu, karena aku tidak yakin dengan kemampuanku sendiri.

Setelah menunggu beberapa menit, ketua jurusanku datang, namanya H. Beliau meminta kami berkumpul di pojok ruangan untuk mendiskusikan mata kuliah semester pertama dan bagaimana caranya kalau ingin mengambil research. Beliau orangnya keren sekali. Cara duduknya setengah bersila sambil menjelaskan mata kuliah ke kami. Cara berbicara dan gesturnya juga tidak kaku, tidak seperti dosen pada umumnya. Ternyata di kuliah master ini satu semester hanya 2 mata kuliah yang bisa diambil, tetapi walaupun hanya 2, kata teman-teman yang sudah berpengalaman sekolah di sini, tugasnya bisa sangat banyak dan sulit.

Setelah H selesai menjelaskan, aku mengobrol dengan 2 teman baruku, yang bernama Diona dari China dan Yala dari Arab. Ternyata mereka sudah 3 bulan di sini untuk belajar Bahasa Inggris dan mengejar nilai IELTS. Mereka kaget aku baru satu minggu di sini karena kata Fiona Bahasa Inggrisku bagus. I’m flattered, itu moodbooster buat aku. Iya ya, kenapa aku ngga percaya diri dengan kemampuanku sendiri. There is no reason for that.

IMG_0626[1]

Diona and Yala (not their real name, nama disamarkan)

Continue reading

4

Going to Australia: What You Should and Should not Bring to Australia

Judulnya panjang banget yak, karena aku bingung seharusnya artikel ini berjudul apa. Intinya aku mau share pengalaman aku tentang apa yang seharusnya kalian bawa dalam koper kalian dan apa yang seharusnya tidak boleh atau tidak perlu dibawa ke Australia, karena negara multicultural ini punya peraturan yang sangat ketat tentang barang-barang bawaan kalian.


Nah, berdasarkan gambar tersebut (dari https://www.wmo.int/pages/prog/www/DPFSERA/Meetings/CG-NERA_Melbourne2008/INF3-Customs.pdf) kita dilarang membawa produk-produk susu dan telur, dairy products, daging-daging olahan sendiri yang tidak berkaleng, hewan dan tanaman, kacang-kacangan, buah, dan sayur. Jadi, kalau misal mau bawa abon itu tidak diperbolehkan karena itu olahan daging (padahal mamaku semangat banget mau bawain abon, tapi ternyata tidak boleh). Lalu untuk kacang-kacangan memang tidak boleh, tetapi kalau seperti bumbu pecel atau bumbu gado-gado diperbolehkan karena itu olahan kacang. Namun, semua makanan tetapi harus di declare.

Apa yang harus di declare dalam passenger card ? Continue reading

3

A Lot of New Things to Learn

Yesterday I went to Chadstone Shopping Centre with my house mates, my new neighbor and my senior at my previous college. My house mates ( a husband and a wife ) were free from work so they can join us shopping together. They said they also wanted to buy some stuff for their kids. The new neighbor, J, came two days ago and she knew nothing here yet, so I decided to asked her out. Then, my senior, which is I’m so contented meeting her here, apparently we had the same fondness that is books, discourse analysis course and literacy course.

We decided to go by bus because Chadstone had limited parking hour and it was expensive. It was about AUD 5 for an hour and cars were not allowed to park more than 1,5 hours. If we park more than that, we will get a fine. It is a new thing for me that in Melbourne, I do not know whether this rule applied in whole Australia, we cannot park more than 2 hours. Unlike Indonesia, we can park our vehicle as long as we like.

Thus, in Australia, if you want to go to the mall for a very long time, it is better to use public transportation. Here we have bus, tram, and train and it is called PTV (Public Transport Victoria). It is very convenient and cheap, only AUD 1-3 depends on our destination. However, they have a lot of bus station and lane, so I don’t have guts yet to go somewhere alone (haha). Continue reading

7

Menyebrang Illegal dan Tersesat

Hi! It’s me again. Sekarang aku mau cerita pengalaman hari kedua dan ketiga di Melbourne.

Pertama, waktu itu aku harus menyeberang karena aku harus ke rumah buddy ku yang ada di seberang jalan. Ohya, buddy adalah program LPDP Victoria. Seseorang bisa menjadi buddy kalau dia sudah satu semester dan bersedia mem-volunteer-i mahasiswa baru untuk jadi guide, mengenalkan daerah baru, dll. Intinya membantu mahasiswa barulah. Nah waktu itu kami harus ke KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia), karena aku butuh pasporku ditempel. Lalu, kami janjian di rumah buddyku yang rumahnya berseberangan dengan rumahku.

Aku pakai maps ke rumah dia. Jaraknya hanya 18 menit jalan kaki. It should be easy, I thought. Aku jalan dari rumah dengan memakai sweater yang didalamnya ada berlapis lapis baju. Kemudian maps tersebut mengatakan aku harus menyeberang untuk sampai ke jalan tersebut, aku tanya buddy, sebut saja dia A.

“Mbak, ini harus nyebrang ya?” sambil aku foto keadaan sekitar. Aku agak takut waktu itu karena jalan-jalan di sini lebar sekali dan karena tidak macet mobil-mobil berlalu lalang dengan cukup kencang.

WhatsApp Image 2017-07-05 at 10.25.07 AM

Continue reading

12

I’m Arrive !

Sebenarnya ini hari ketiga aku sudah sampai di Aussie, tetapi malam ini aku baru sempat menulis di blog lagi. Padahal lebih afdhol kalau cerita pengalaman itu langsung ditulis, kan? karena tentu akan lebih mudah menulis secara detail tanpa harus mereka ulang kembali, tetapi apa boleh buat karena baru ini kesempatan aku untuk menulis. Jadi, begini ceritanya:

 

24-hour Journey Continue reading

13

Visa Student Australia dan Medical Check up di RS Premier Surabaya

Sebelum submit visa, aku harus menyerahkan GTE dan Form 956A yang sudah ditandatangani. Dua hal ini rupanya wajib diisi oleh kita jika ingin membuat Visa pelajar. GTE sendiri adalah Genuine Temporary Entrant yang berisi identitas nama, dan beberapa pertanyaan seperti: tujuan sekolah, jurusan, alasan memilih jurusan tersebut, kenapa memilih Australia sebagai tujuan sekolah, apa hubungan antara jurusan yang dipilih dengan masa depan anda, dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini sedikit mirip wawancara beasiswa dan essay yang aku kerjakan, jadi sebagain jawaban GTE aku copas dari essay beasiswaku (hehe). Lalu Form 956A, kamu bisa klik di google untuk melihat dokumennya seperti apa. Setelah menandatangani semua dokumen itu, maka dokumen harus di scan dan dikirim ke agenku untuk men-submit visa.

Oleh karena itu, kalau beli printer, lebih baik teman-teman beli printer yang otomatis bisa scan, karena dari awal proses beasiswa sampai visa banyak sekali yang di scan. Jadi lebih baik punya scanner sendiri daripada bolak-balik ke warnet atau fotocopy-an. Selain itu, dokumen-dokumen yang scan itu tentu dokumen yang penting dan rahasia. Sehingga, lebih aman juga men-scan di rumah.

Ohya, sebelum submit, kita harus membayar biaya visa terlebih dahulu. Karena aku melalui agen, aku harus membayar visa sebesar Rp 6.800.000,-, sedangkan harga visa-nya sendiri sebenarnya Rp 5.500.000,-. Oleh karena itu, otomatis aku diganti oleh LPDP hanya sejumlah biaya visa, sedangkan sisanya harus merogoh kocek bapak (:”D)

Continue reading

8

Kos-kosan

Akhirnya drama pencarian akomodasi di Melbourne sudah selesai :’) * kibarkan bendera merah putih * (Anyway, cerita tentang akomodasi bagian pertama bisa cek disini)

Kenalan kami di Melbourne akhirnya memberikan detail sebagai berikut:

akomodasi ga fix

Harga sewa di tempat beliau adalah $675 satu bulan tetapi ternyata ada tambahan $50 lagi untuk heater. Selain itu masa alas kasur harus bawa sendiri, padahal bawaanku dari rumah tentu sudah pasti sudah banyak. Mencuci pun dibatasi. Walau memang tidak mungkin mencuci setiap hari, yah masa dibatasi. Pemakaian air. listrik, gas tidak dibatasi tetapi berhemat lebih baik. Kesan kalimat ini, kan intinya dibatasi juga. Terlalu banyak aturan dan untuk kesekian kalinya aku tidak srek mengambil akomodasi disini.

Selanjutnya, rice cooker tidak disediakan, padahal kata orang tua rice cooker itu penting, karena mungkin aku tidak bisa langsung makan makanan ala Australia nyel tanpa nasi. Ya kali bawa rce cooker dari Indoensia >< Bisa saja beli di Aussie nanti, tetapi kamar ini bukan permanent, jadi kalau beli dan ternyata kamar yang permanent nanti menyediakan rice cooker kan jadi rugi. Selain itu, ga kebayang kalau boyongan sambil bawa-bawa rice cooker.

Continue reading