Tentang Katarsis dan Berbaikan dengan Hati

Tentang Katarsis dan Berbaikan dengan Hati

Aku penganut keyakinan, kalau aku suka orang, maka itu urusanku. Entah orangnya suka aku atau tidak, itu urusan dia. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku ke siapa pun, dan itu juga berlaku bagi orang lain. Namun, meyakini hal ini pun susah bagiku. Apalagi ketika aku merasa benar-benar cocok dengan seseorang; kemudian di satu sisi aku merasa aku tipe orang yang ‘rumit’, dan aku merasa tidak semua orang bisa benar-benar menerimaku. Ya ini hanya pikiran dan perasaanku sendiri sih, tapi siapa yang tidak sedih.

Yah, kita hanya manusia-manusia biasa yang punya perasaan.

Aku juga tipe orang yang suka segalanya teratur, terorganisir dengan baik, dan settled. Aku tidak suka tipe hubungan yang ‘no-string-attached‘. Aku benci sekali ketika aku sudah membangun sebuah kebiasaan dengan siapa pun, kemudian kebiasaan-kebiasaan itu hilang. Aku pun sudah membangun banyak kebiasaan dengan orang yang aku yakini dia sekarang sedang baik-baik saja dengan orang yang sudah dia pilih. Dan aku tahu bahwa kebiasaan itu tentu akan berangsur-angsur hilang, karena aku sadar dalam hidupnya aku hanya orang yang sudah biasa datang dan pergi.

Logikaku sudah paham; tapi sekali lagi aku hanya manusia biasa yang punya perasaan. Aku tidak bisa berlarut-larut dan aku butuh katarsis.

Maka, yang aku lakukan adalah, baca buku. Akhir-akhir ini aku banyak beli buku-buku tentang politik, feminisme, dan sastra. Membaca buku yang ‘kaku’ seperti itu lumayan healing buat aku. Karena aku merasa jatuh cinta bikin aku goblok dalam satu sisi, maka baca buku yang bikin aku pinteran dikit itu sangat membantu.

Sekarang aku lagi baca ‘After You’ karya Jojo Moyes.

‘After You’ adalah buku kedua dari trilogi ‘Me Before You’. Aku udah baca dan nonton ‘Me Before You’. Film adaptasi daru bukunya oke banget kok, aku tidak kecewa karena sesuai dengan apa yang tertulis di buku. Bagiku, baca ‘After You’ juga healing banget karena tokoh utama, Louisa Clark, usianya sama seperti aku. Dia juga sama-sama proses move on kayak aku. Bahkan lebih lama Louisa Clark. Setelah satu tahun, dia masih belum bisa move on; dan padahal juga, hubungan dia dengan orang yang dia sukai kurang dari satu tahun. Baca atau tonton film-nya aja, aku ngga mau spoiler.

Dengan baca novel ini, aku merasa aku ngga sendirian karena aku bisa relate banyak hal. Dari novel ini, aku belajar bahwa, sesebentar atau selama apapun hubunganmu dengan seseorang, dan ketika sayang dengan seseorang itu, perasaanmu valid. Ketika kamu sedih, marah, kecewa, perasaanmu juga valid. Kamu berhak merasakan itu semua, karena ketika kita denial atau melakukan penolakan, itu memperburuk keadaan. Tapi inget, sesedih apa pun kita tetep harus keep going.

Selain baca buku, aku juga baca puisi dan merekam suaraku sendiri baca puisi. Aku tidak tahu kenapa, dan tidak bisa menjelaskan, kenapa baca puisi bisa bikin tenang. Mungkin, sekalin lagi aku merasa, aku tidak sendirian. Perasaan yang aku alami ini wajar, dan semua orang di dunia ini bisa saja pernah merasakan hal ini. Ini adalah fase yang wajar. Dan kita punya cara yang berbeda-beda. Aku suka baca catatan temanku tentang ‘semacam melupakan’ sih kalau aku bilang.

Ketiga, ngopi juga adalah cara aku berkatarsis. Kata teman-temanku yang barista, aku adalah home brewer. Aku amini saja because it sounds cool. Emakku juga home brewer, tapi beliau sukanya kopi instan. Entah ini termasuk atau tidak. Kalau aku sukanya french press karena simple atau kadang bikin espresso. Di rumah aku lagi stok Brazillian Lavazza, Arabica dan Robusta Arjuno. Aku suka eksperimen dengan kopi-kopi itu.

Keempat, menulis. Entah itu menulis di blog seperti ini, di story, twitter, atau cerita ke teman. Aku memang tipe orang yang kalau sedih aku gabisa diem aja. Beberapa teman aku, lebih suka ketika sedih mereka diam aja. Kalau aku diam aja, kayaknya pada ujungnya aku bakalan sangat kalut luar biasa ngga jelas. Tapi iya itu sih, kembali lagi, katarsis setiap orang berbeda.

Nah dari tadi aku bilang katarsis, buat kalian yang belum baca tapi belum tahu, kalian udah bisa nangkap maksud aku? Jadi katarsis itu lebih ke bagaimana kita mengungkapkan emosi, dan berbaikan dengan diri sendiri. Gitchu.

Terakhir, Tan Malaka aja jomblo sampai akhir hayat, kenapa aku ga santuy?

dengerin lagu-lagu BMTH juga salah satu cara aku ber-katarsis

17 thoughts on “Tentang Katarsis dan Berbaikan dengan Hati

  1. Pengalaman yang unik dan sungguh di-alam-i dengan baik. Orientasi pikirnya positif dan sehat. Kenyataan diri memang sangat kompleks. Hanya takut kalau-kalau jatuh ke narsisme diri dalam untaian kata.
    Heheheh

    Like

  2. Novel Me Before You ada di rumah, tapi belum kusentuh. Gegara kamu bilang bagus, aku ingin baca. Tapi menyelesaikan Murakami dulu, kayaknya. Ini juga bagian dari katarsisku, Dis. Jadi, semangat ya:-)

    Liked by 1 person

  3. Aku perlu 2 tahun lebih untuk benar-benar melepas dan kesibukan memang ampuh mendistraksi rasa sakit.
    Kalau aku dulu katarsisnya selain nulis tuh naik gunung dan fangirling. Asli, patah hati itu keren sih, mengubah anak rumahan yang mager jadi suka naik gunung.

    Sejujurnya aku masih menyimpan sedikit rasa sakitnya buat koleksi wkkk, gimana ya jelasinnya, soalnya untuk berkarya atau menikmati karya, diversitas rasa itu penting kan, termasuk rasa “sakit” itu sendiri.

    Nice post btw, salam kenal yaa

    Liked by 1 person

    1. duaaa tahun? :’) mba gimana caranya menikmati rasa sakit itu? tolong deskripsikan pengen tauu.

      yah dan memang tiap orang beda-beda ya. patah hati kali ini bikin aku kurang produktif, males ngapa-ngapain, padahal bisa saja aku sibuk melakukan hal yang lain.

      tapi, patah hati juga pernah bikin aku sangat produktif; dan itu salah satu ceritanya skripsiku bisa selesai di semester 7 :))

      makasih sudah baca. salam kenal jugaa :))

      Like

      1. Barangkali kepribadian dan karakter orang itu emang ngaruh, ada orang yang suka sendiri ada yang nggak betah sendiri lama-lama.
        In my case, because it’s so profound-eventhough it just in a brief touch, jadi aku emang nggak mau mulai sebelum bener-bener lepas.
        Nggak ada formulanya, cuma seperti yang aku sampaikan sebelumnya hehe. Main sama temen, naik gunung, fangirling.

        Keren dong itu, ngebut πŸ˜€

        Like

  4. Aku sedang bucin sama seseorang, sampe terasa sesak buat nahan suka. Sampe nulis puisi satu orang itu sampe sekarang. Sedih sendiri, kemudian sadar banyak mimpi yg bukan lagi soal percintaan aja ehhe Baca ini seperti kayak lihat diriku juga tapi dengan tips katarisasinya.

    Liked by 1 person

    1. hahaha podcast kak. ohya ini aku lupa mention, aku suka dengerin podcast tema-tema mental health atau jokes.

      atau nonton film horror; karena bagiku mending ketakutan daripada goblok karena bucin hahahaha.

      Like

      1. Dulu akutu gobs karna bucin, setelah dengerin podcastkesayangan aku jadi pinteran. Terimakasih podcastkesayangan.

        #bantupromo, laah. πŸ€£πŸ˜‚

        Okey. Dengerin podcast. ✍🏻
        Saya suka sih denger podcast, tapi yg tema2 mental health blom pernah kayanya.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s