Quote

Podcast Kesayangan Eps. 19. Ekofeminisme

Buat teman-teman yang belum tahu, aku dan teman-temanku – Ariq dan Nana – punya Podcast yang berjudul Podcast Kesayangan. Podcast kami streaming di Spotify dan Anchor. Kami membahas tentang apa saja yang kami mau, haha. Kadang serius, kadang bercanda aja, kadang puisi, kadang curhat, kadang kami rekaman bersama-sama, tetapi akhir-akhir ini kami rekaman sendiri-sendiri karena kami LDR Malang – Jogjakarta.

Di episode 19 kali ini aku memutuskan untuk mengajak Bang Ical berbicara tentang Ekofeminisme. Siapa itu Bang Ical? Kamu bisa langsung dengarkan Podcast Kesayangan episode 19 dan juga baca tulisan-tulisan Bang Ical di sini.

Di postingan ini aku membuat rangkuman buat temen-temen Tuli yang pengen tahu isi podcast ini apa, atau buat teman-teman yang lebih suka membaca daripada mendengar. Selamat membaca, dan mendengarkan!

Episode 21 – Ngobrol Buku Bareng Dongeng Bocah Podcast Kesayangan

Siapa nih yang suka baca buku? Atau kepo-kepo gimana sih caranya biar suka buku, atau pengen baca buku tapi ga keluar budget yang mahal, nah dengerin aja. Gadis lagi ngobrol dengan Mbak Didi (@didi.ramsey), salah satu ibu rumah tangga yang produktif karena covid. Beliau lagi demen bercocok tanam, membuat dongeng di Dongeng Bocah (#dongengbocahh), dan masih sempat baca buku! Yuk simak 🙂 — Send in a voice message: https://anchor.fm/podcast-kesayangan/message
  1. Episode 21 – Ngobrol Buku Bareng Dongeng Bocah
  2. Episode 20 – Mending Mana, Dosen atau Barista?
  3. Episode 19 – Ekofeminisme
  4. If Tomorrow Starts without Me (POEM)
  5. Episode 18 – Ir. (Ahmad) Soekarno x Gamal Abdul Nasser

Bang Ical menjelaskan bahwa ekofeminisme adalah cara berfikir feminisme yang diterapkan untuk membaca eksploitasi lingkungan hidup; sederhanya seperti ini. Dalam alam pikir ekofeminisme, alam itu dipersamakan dengan perempuan. Alam itu identik dengan perempuan karena dari jaman peradaban kuno, bumi itu cenderung dilihat sebagai perempuan. Makanya, kita mengenal istilah ibu pertiwi, ibu seri, dan lain-lain. Dalam teologi kaum pagan kuno, perempuan itu memang dijunjung tinggi karena dia memproduksi kehidupan. Perempuan itu melahirkan dan itu simbol memproduksi kehidupan, sehingga laki-laki dalam tradisi pagan kuno adalah pelayan bagi perempuan.

Kemudian di sini peran laki-laki apa?

Bang Ical melanjutkan penjelasan bahwa, laki-laki dan perempuan pada pandangan ekofeminisme itu sama dan maknanya sama-sama diperluas, tidak hanya dilihat dari wujud fisik. Kita bisa memahami ini kalau kita bisa mengurai sedikit tentang ekofeminisme dan sejarahnya bagaimana.

Asumsinya, perempuan dan alam punya hubungan yang kuat. Rusaknya alam, perempuan yang paling pertama tahu. Contoh, udara yang berubah menjadi tidak jernih, air yang biasa untuk masak berubah kualitasnya, itu perempuan yang paling pertama tahu dalam tradisi ekofeminisme; karena perempuan yang paling berhubungan dengan produksi. Relasi antara perempuan adalah relasi yang menunjukkan bahwa kerusakan alam itu berdampak langsung.

Kita orang urban mungkin tidak merasakan itu langsung tetapi, orang-orang rural masih merasakan dengan cepat bagaimana kualitas tanaman memburuk, bagaimana kualitas air memburuk karena mereka (perempuan) yang banyak bersentuhan dengan dapur mereka. Kenapa mereka yang banyak bersentuhan? Karena mereka yang ditaruh di situ (dapur) oleh budaya. Karena mereka yang dieksploitasi, mereka yang paling tahu.


Patriarki versi ekofeminisme; patriarki itu hidup dalam mesin-mesin industri, mesin-mesin ekonomi yang berkiblat pada pertumbuhan. Orang bebas mengejar pertumbuhan ekonomi, selama kamu punya modal besar, kamu berhak mengejar pertumbuhan. Namun, sayangnya, mengejar pertumbuhan ini maksudnya adalah mengeksploitasi lingkungan karena lingkungan itu hanya dilihat sebagai bahan baku atau objek atau pelengkap manusia. Alam hanya berguna bila ia berguna untuk kehidupan manusia.

“Ini yang disebut ekofeminisme yang dijajah oleh nalar patriarki”.

Bagi yang belum tahu tentang patriarki itu apa, silakan membaca artikel kompasiana tentang “Mengupas Budaya Patriarki di sini.

Kami juga membahas tentang dualisme. Bang Ical bilang, dualisme itu antara laki-laki dan perempuan. Ada logika dan jarak yang memisahkan, misal laki-laki dianggap lebih utama. Posisinya sejajar, tidak ada hierarki, tetapi yang satu lebih baik daripada satunya. Contohnya di kelas, hierarkinya mahasiswa dan dosen, tetapi diantara mahasiswa itu sendiri ada mahasiswa-mahasiswa yang diistemawakan karena mungkin dianggap pintar. Ada juga mahasiswa yang bisa saja karena bisa jadi di subjek itu dia biasa-biasa saja, padahal sebenarnya mereka sama saja. Nah ini disebut dualisme.

Beberapa kasus ekofeminisme yang terjadi di Indonesia dan internasional serta beberapa tokoh perempuan yang terlibat di dalamnya, yang di bahas di podcast, aku tautkan linknya di sini. Kalian bisa klik judul untuk tahu beritanya atau silakan cari di search engine kalian untuk lebih detailnya.

  1. Pabrik Semen Kendeng.
  2. Ekspolitasi Sumber Air Gemulo, Batu.
  3. Aleta Baun, Perempuan Pejuang Lingkungan di Timur Indonesia.
  4. Wangari Maathai (Kenya).

Kemudian, setelah tahu ekofeminisme, kita bisa apa?

Lawan kita adalah negara karena itu merupakan simbol patriarki. Persoalannya bukan kalah atau menang. Namun, sebagai individu kita bisa membalik logika patriarki terhadap alam, lingkungan hidup, dan juga manusia. Seperti yang kamu lakukan, kata Bang Ical ke aku, ketika kamu update status tentang feminisme. Seperti yang aku lakukan, kata Bang Ical, aku menulis dan berbicara tentang etike lingkungan dimana-mana dengan intens.

Kemudian, Bang Ical juga terlibat dalam beberapa gerakan. Mungkin kita bisa mulai dari sana, tetapi intinya ekofeminisme ini kalau menurut Vandana Shiva, adalah gerakan yang harus mendefinisikan ulang segala sesuatu. Percuma juga kalau misal kita berbicara tentang feminisme, tentang hak-hak perempuan, keadilan bagi perempuan, tetapi nalar patriarki masih menguasai diri kita masing-masing. Contohnya, ketika kita masih membenarkan pembangunan yang destruktif, yang artinya itu juga merusak ibu bumi sekaligus para perempuan di dalamnya, masih membiarkan eksploitasi buruh, dan lain sebagainya.

Intinya, bukan kalah atau menang, tapi nyicil kesadaran.


Bagus untuk dibaca:

Ekofeminisme: Menyoal Perempuan dan Alam https://www.jurnalperempuan.org/blog/ekofeminisme-menyoal-perempuan-dan-alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s