Tentang Menjadi Perempuan; Menjadi Diri Sendiri

Tentang Menjadi Perempuan; Menjadi Diri Sendiri

Pernah ngga kalian mikir, kok aku jadi orang aneh banget ya. Pernah ngga kalian merasa kalian bukan perempuan ‘seutuhnya’ karena kalian tidak se-feminim teman kalian. Atau, kalian tidak seperti perempuan yang banyak orang katakan harus begini dan begitu. Aku mau cerita, tapi cerita ini bakal panjang.

Waktu SD, aku suka main barbie. Aku koleksi 5-6 barbie; dan semua itu punyaku. Aku tidak berbagi dengan siapapun karena waktu itu aku belum punya adik. Nenekku juga penjahit. Beliau suka bikinkan baju-baju buat barbie-barbieku dari sisa-sisa kain. Aku suka karena barbieku bajunya bisa ganti-ganti, dan aku ingat banget bahwa aku punya koleksi baju barbie sekitar satu kresek lah. Akhirnya pas SD aku suka gambar desain baju, dan menulis puisi. Kadang-kadang aku juga baca puisi di depan mahasiswa-mahasiswa bapak.

Ngomong-ngomong, walau waktu kecil aku mainan barbie, aku pun tidak yakin nanti akan membelikan anakku barbie nanti. Menurutku, membelikan anak barbie sama dengan mendidik dia dari kecil tentang standarisasi kecantikan. Cantik yang harus tinggi langsing, rambut panjang, dan kulit putih. Yang walaupun sekarang barbie udah banyak macamnya; I mean, kulit barbie tidak hanya putih dan rambutnya tidak melulu pirang.

Tentang menulis puisi, itu salah satu hobi yang menurutku aneh waktu itu. Aku suka menulis puisi tentang apasaja dan aku punya satu buku khusus untuk menulis puisi. Aku suka menulis karena aku suka baca sastra sejak SD. Aku udah baca Pramoedya Ananta Toer yang Cerita dari Blora dan cerpen AA Navis yang Robohnya Surau Kami ketika SD, dan juga beberapa cerpen di Majalah Horizon (majalah sastra, google aja). Waktu istirahat di sekolah, aku juga lebih sering baca ke perpus. Waktu itu ga ada anak yang sesuka itu dengan buku dan ga ada yang tahu Pramoedya. Akhirnya, aku gapunya banyak temen pas SD. Aku nerd banget waktu SD. Asli.

Nah, karena SD aku ngerasa aku aneh, aku mulai mengurangi membaca. Aku juga tidak pernah membaca atau menulis puisi lagi. Entah itu buku catatan puisiku kemana. Aku ga bahas buku sama temen-temenku karena mereka bacanya teenlit. Aku ngga bookshaming, tapi aku ngga terlalu into sama teenlit. Tapi, waktu SMP aku tetep ngerasa aku orang yang aneh gitu.

Waktu SMP, aku beli album Linkin Park yang Minutes to Midnight, Avril Lavigne yang The Best Damn Thing, dan Simple Plan yang aku lupa judulnya. Tapi aku juga suka dengerin Metallica, Slipknot, dan band-band hardcore lainnya. Bahkan kalau ngga bisa tidur, aku mending dengerin Slipknot baru bisa tidur. Aku juga suka baca komik-komik, aku lupaaaa banget aku udah baca apa aja, tapi aku paling suka seri Claymore. Di sini aku ngerasa aku masih tetep anak yang weird, asli, dan ga feminim-feminim sama sekali.

Waktu SMA, aku masih ga terlalu banyak baca buku, dan aku lagi suka-sukanya sama pop punk band semacam All American Reject, Blink, SUM 41, dan lain-lain itulah yang sejenis. SMP aku ngga berjilbab, dan SMA balik lagi berjilbab tapi tetep aku ngerasa aku aneh 😂😂.

Pas awal kuliah, aku ngerasa aku gapunya jati diri — dan akhirnya rajin lagi baca buku lagi. Kuliah aku juga mendukung banget karena ada mata kuliah linguistik dan sastra. Akhirnya aku memutuskan, jati diri itu dibentuk, bukan dicari.

Aku juga menemukan bahwa menjadi perempuan itu tidak ditentukan dengan sifat feminisme. Kita semua adalah jebolan budaya patriarki. Sebagai perempuan, kita didekte oleh nilai-nilai budaya perempuan yang harus punya sifat-sifat feminisme. Well, itu sih aku rasain. Aku sering merasa aku ga perempuan-perempuan banget karena aku tida ada kalem-kalemnya dan aku suka dengerin Babang Oli Sykes nyanyi. — Dan kemudian aku memutuskan, aku adalah seorang perempuan dengan definisiku sendiri.

Aku suka pink. Aku gasuka heels, tapi aku suka boots. Menurutku orang yang pakai heels adalah orang-orang yang kuat, karena susah itu jalannya. Aku gabisa ngalis, tapi kalau pakai lipstik aku suka main ombre. Aku pake make up untuk diriku sendiri, karena aku suka, bukan karena siapa pun. Aku suka sastra. Aku suka baca buku yang serius-serius, tapi aku juga suka banget bacain meme-meme sampe ngakak gajelas. Bring Me The Horizon tetep salah satu band favorite. The list can go on and on :))

Jadi, kalau kalian merasa kalian aneh, nggak kok kalian ngga aneh. Kalian cuman berbeda, dan menjadi berbeda itu perlu. Everyone is already taken, why do you want to somebody else?

Kalau kalian ngerasa kalian ngga feminim, ngga papa kok. Kita ngga perlu sama dengan orang lain. Kalian tetep seorang perempuan dengan definisi kalian masing-masing.

6 thoughts on “Tentang Menjadi Perempuan; Menjadi Diri Sendiri

  1. Isi tulisannya sama dengan apa yang aku rasakan. “Kenapa aku tidak ada kalem-kalemnya” sampe ada salah seorang laki-laki (temenku) bilang bahwa aku harus tetap ada anggun-anggunya meski agak sedikit selebaran gt. Sedih sih ketemu orang kayak gitu, tetapi ya gak papa itu anggapan dia, yang penting aku sekarang jadi diri aku sendiri aja gt.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s