5

Studying at Monash University

Hi guys!

I talked about the differences between studying at Indonesia and Australian uni here.  it was about how the lecturers greet us, how do we should call lecturer, some rules including attendance list, coming late to the class, and how to dress up, and about the reading list. Now I’d like to explain more detail about my experiences at Monash University (so far).

1. Library

Firstly, it is the library. Monash has several libraries and you may visit the page here. I study at Monash Clayton where there are three libraries here, that is Matheson Library, Law Library, and Hargrave-Andrew Library. The library which I’ve visited the most is Matheson. Continue reading

Advertisements
13

Studying at Indonesia Uni vs Australia Uni

G’day mate!

Today I’m going to talk about the differences between studying at Indonesia Uni and Australia Uni. This is based on my under graduate experience at Universitas Brawijaya and currently, I’m studying Applied linguistics at Monash University. I will generalize what’s happen if you study in Indonesia and Australia, but maybe you could have the different experience with me. So if you want to disagree with what I’m saying, you can drop a comment below!

So, shall we start?

Continue reading

3

Enrolling at The Campus and Going to The City

Kemarin, Selasa, 11 Juli 2017 adalah waktunya daftar ulang di Monash University. Ketika aku masuk kelas, aku disambut oleh ibu-ibu ramah untuk mengambil formulir. Di kelas sudah ada beberapa mahasiswa. Ada yang dari Bali, China, US, Colorado, Arab, dan lain-lainnya. Benar-benar kelas international dengan berbagai budaya. Aku sempat minder waktu itu, karena aku tidak yakin dengan kemampuanku sendiri.

Setelah menunggu beberapa menit, ketua jurusanku datang, namanya H. Beliau meminta kami berkumpul di pojok ruangan untuk mendiskusikan mata kuliah semester pertama dan bagaimana caranya kalau ingin mengambil research. Beliau orangnya keren sekali. Cara duduknya setengah bersila sambil menjelaskan mata kuliah ke kami. Cara berbicara dan gesturnya juga tidak kaku, tidak seperti dosen pada umumnya. Ternyata di kuliah master ini satu semester hanya 2 mata kuliah yang bisa diambil, tetapi walaupun hanya 2, kata teman-teman yang sudah berpengalaman sekolah di sini, tugasnya bisa sangat banyak dan sulit.

Setelah H selesai menjelaskan, aku mengobrol dengan 2 teman baruku, yang bernama Diona dari China dan Yala dari Arab. Ternyata mereka sudah 3 bulan di sini untuk belajar Bahasa Inggris dan mengejar nilai IELTS. Mereka kaget aku baru satu minggu di sini karena kata Fiona Bahasa Inggrisku bagus. I’m flattered, itu moodbooster buat aku. Iya ya, kenapa aku ngga percaya diri dengan kemampuanku sendiri. There is no reason for that.

IMG_0626[1]

Diona and Yala (not their real name, nama disamarkan)

Continue reading

4

Going to Australia: What You Should and Should not Bring to Australia

Judulnya panjang banget yak, karena aku bingung seharusnya artikel ini berjudul apa. Intinya aku mau share pengalaman aku tentang apa yang seharusnya kalian bawa dalam koper kalian dan apa yang seharusnya tidak boleh atau tidak perlu dibawa ke Australia, karena negara multicultural ini punya peraturan yang sangat ketat tentang barang-barang bawaan kalian.


Nah, berdasarkan gambar tersebut (dari https://www.wmo.int/pages/prog/www/DPFSERA/Meetings/CG-NERA_Melbourne2008/INF3-Customs.pdf) kita dilarang membawa produk-produk susu dan telur, dairy products, daging-daging olahan sendiri yang tidak berkaleng, hewan dan tanaman, kacang-kacangan, buah, dan sayur. Jadi, kalau misal mau bawa abon itu tidak diperbolehkan karena itu olahan daging (padahal mamaku semangat banget mau bawain abon, tapi ternyata tidak boleh). Lalu untuk kacang-kacangan memang tidak boleh, tetapi kalau seperti bumbu pecel atau bumbu gado-gado diperbolehkan karena itu olahan kacang. Namun, semua makanan tetapi harus di declare.

Apa yang harus di declare dalam passenger card ? Continue reading

6

Temporary vs Permanent

Sekarang sudah Bulan Mei dan aku mempunyai persiapan kurang dari 2 bulan untuk mempersiapkan segala sesuatunya tentang persiapan keberangkatan ke Melbourne (*eh panjang bener kalimatku, pokoknya intinya itu deh). Alhamdulillah visaku sudah granted, tinggal kurang authority to enroll-nya. Maka, setelah urusan visa selesai, yang harus aku pikirkan dan persiapkan adalah akomodasi/tempat tinggal di sana, pakaian hangat sepatu, koper, tiket pesawat, dan lain-lain. Aku sudah menulis daftar belanja sebagai persiapan menghadapi winter di sana. Thanks to beberapa teman LPDP yang sudah di sana dan Kak Didi si empu blog ini: https://didisahertianblog.wordpress.com/

Nah, masalah belanja barang-barang sepertinya cukup mudah, tetapi masalah akomodasi yang agak ribet. Yah namanya beda negara juga ya. Kalau masihnya satu negara, mungkin kita tinggal inspeksi ke kontrakan atau kos-kosan tersebut, dan tentu kita tidak perlu seorang agent untuk sekedar urusan ngekos atau ngontrak. Namun, beda cerita kalau kita mau cari akomodasi di negara seberang.

Continue reading