Masalah Hidup, Filsafat, dan Segala Tetek Bengeknya

Masalah Hidup, Filsafat, dan Segala Tetek Bengeknya

Kamu sering overthinking? Kamu ga sendirian. Aku sering banget. Overthinking aku kali ini tiba-tiba mikir soal kehidupan out of the blue. Dan akhirnya aku chat Bang Ical, yang kalian bisa baca tulisannya juga di sini. Aku chat Bang Ical karena dia sobatku yang paling asik diajak bicara hal filosofis.

Kali aja kamu mau baca dialog overthinking-ku dengan Bang Ical, nih tinggal scroll bawah:


Pernah ga mempertanyakan kehidupan? Kenapa si kita hidup? Tujuan kita hidup apa? Kita mau milih jalan hidup yang gimana?

Pernah, Dis. Dan itu bersifat kontinu. Kita tidak pernah menemukan jawaban final. Mungkin kita bisa menemukan akarnya (mengapa kita hidup, ke mana kita harus berjalan), tapi kita akan selalu bergulat di pertanyaan terapan (hidup bagaimana yang kita inginkan). Dua hal itu berbeda, soalnya 🙂

Aku setuju kita tidak pernah menemukan jawaban final, karena hidup selalu kita gabisa nebak kayak gimana. Tapi capek ga sih selalu mikir? Kayak aku barusan mikir, aku barusan selesain artikel jurnal, terus udah, terus apa lagi. Hidup bagaimana yang kita inginkan, aku ingin yang bagaimana?

Masalahnya, pergulatan itu bukan cuma nalar, Dis. Bukan cuma pakai pikiran. Kadang untuk menemukan jawabannya, kita perlu terlibat dalam pengalaman dalam hal-hal tertentu, secara intens dan pekat. Seberapa jujur hati kita menerima kenyamanan yang tidak bersifat sementara juga menentukan pilihan kita. Sebab, jawaban tentang eksistensi diri tidak selalu berhubungan dengan kesenangan yang kita inginkan sekarang. Kadang jawaban yang menyentak kesadaran kita itu berlawanan dengan yang selama ini kita yakini.

Aku gak paham yang satu kalimat terakhir. Jabarkan please.

Ada orang yang dalam waktu sangat lama yakin bahwa hakikat kehidupan adalah kebebasan. Manusia harus merayakan kebebasannya dalam hal apapun. Belakangan dia justru menemukan kedamaian dan kemantapan dalam cara hidup yang berserah, yang berpasrah, yang terikat pada norma tertentu. Dia mengalami titik balik yang tidak sekali pun ia duga. Itu sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, tidak pernah dia inginkan, tapi dia mengalami suatu kenyamanan dan ketenteraman batin, yang diperkuat dengan argumentasi tertentu, misalnya, argumentasi agama atau kearifan lokal. Itu maksudnya.

Aku menemukan kata kunci kenyamanan dan ketenteraman batin di situ. Jadi kayaknya ini kunci yang ngejawab pertanyaanku di awal. Kenapa manusia ga pernah puas? Karena ketika dia sudah mencapai sesuatu, maka dia akan mencoba mencari sesuatu yang lain, sampai dia merasa nyaman. Tapi ini kayaknya berlaku ke orang yang ga suka zona nyaman.

Tapi, yang kayak tadi kubilang, menggunakan nalar bukan satu-satunya jalan. Kadang, membiarkan diri kita melebur dalam pengalaman tertentu, sekali pun untuk waktu yang panjang, bisa menuntun kita pada jawaban.

What do you think? do you always question a lot the value of your life?

Selalu, Dis. Pertanyakan, jawab, satukan puzzle-puzzle. I always do that. Aku punya teman, Dis, seorang Ateis. Ateisme total. Denganku, dia tidak merasa dijudge. Aku justru bisa membantu memperkuat argumen ateisme dia. Tapi, aku mengingatkan dia untuk selalu terhubung dengan manusia. Setelah 6 tahun terakhir dia bergelut di berbagai kegiatan kerelawanan dan kemanusiaan, tahun lalu dia memantapkan diri memeluk agama Hindu.

Bukan tentang dari apa menuju apa, tapi perubahan itu sendiri, selalu menakjubkan. Dia tidak mendapatkan itu dengan bergulat. Dia bergulat hanya ketika hatinya sudah tiba di dekat pilihannya (Hindu). Bukan tentang dari apa menuju apa, tapi perubahan itu sendiri, selalu menakjubkan. Dia tidak mendapatkan itu dengan bergulat. Dia bergulat hanya ketika hatinya sudah tiba di dekat pilihannya (Hindu). Sebelumnya dia hanya membiarkan dirinya mengalir. Memastikannya terhubung dengan nilai-nilai kemanusiaan hanya caraku untuk membuatnya lebih cepat menemukan kebenaran.

Oke. kata kunci ini ga ada di pernyataanmu di atas tapi aku merasa menemukan dua kata kunci: sabar dan persistent. Aku soalnya gitu bang. Aku merasa berdosa karena kayak ga bersyukur. Tapi aku bersyukur, but I want more.

Kesimpulan yang tepat 🙂

Kesimpulan yang tepat yang merupakan kelemahanku juga.

Menurutmu, kenapa bisa kita selalu menginginkan lebih?

Hakikat manusia memang gitu, menurutku. cuman yang menjadi pembeda, tiap orang punya bentuk dan wujud yang berbeda kalau kita bahas persoalan keinginan; dan ini ga melulu soal materi. Misal, aku punya temen yang wujud keinginannya itu lebih ke material, ada temen yang wujud keinginannya lebih ke ngebantu orang. Mereka merasa puas dengan hal-hal yang berbeda. Pertanyaannya adalah, sometimes I don’t know what I want.


Adakah sesuatu yang bila semakin dikejar semakin membuat kosong hati, karena sifat senangnya semu? Adakah sesuatu yang sebaliknya?

Ada.

Mungkinkah kita tidak mengerti apa yang kita inginkan karena kita tidak mengerti di jalan yang mana seharusnya kita melangkah?

Betul.

Mungkinkah kita tidak mengerti apa yang kita inginkan karena kita tidak mengerti di jalan yang mana seharusnya kita melangkah? Iya, bener

Aku ngaji etika untuk keperluan tesis. Ada dua aliran besar di filsafat etika. Relativisme dan absolutisme. Argumen yang kedua, menurutku, lebih kokoh. Konsekuensinya, bila memang ada nilai absolut, maka memang ada hal-hal yang keliru bila dikejar. Keliru bukan karena secara norma bertentangan, tapi keliru karena imbasnya ke kondisi jiwa manusia. Dan imbas itu objektif, terjadi pada siapa pun yang mengejarnya.

Etika itu kan susunannya begini:

  1. Realitas objektif di dunia (hukum sebab akibat di dunia materil dan mental, secara fisika dan psikologi, bila berbuat apa maka akan merasakan apa).
  2. Prinsip-prinsip yang mengacu pada realitas objektif (ini yang disebut ethics).
  3. Norma-norma, atau aturan-aturan, yang mengatur lebih rinci tindak tanduk manusia.

Ini susunannya absolutisme. Misalnya, nih, misalnya aja. Aku (Sasak) dan kamu (Jawa) punya norma yang berbeda, sebagai anak dari budaya masing-masing. Tapi sebenarnya, kalau ditelisik, kita punya tata nilai prinsipil yang sama, yang mengacu pada realitas objektif yang sama. Secara umum, orang Nusantara punya kemiripan dalam hal spiritualisme, dan itu memengaruhi tata nilai dan kemudian tata norma.

Sek, aku berusaha memahami. Bisa tolong jelaskan pake bahasa indonesia yang lebih ringan?

I am sorry 😅😅😅. Anggaplah kita sedang naik motor dan bertemu perempatan yang ada traffic light-nya. Kita berhenti karena lampu merah.

Kalau kita bertanya “kenapa kita harus berhenti” dan jawabannya adalah “karena aturannya begitu,” maka itu adalah Etika Level Permukaan. Kita berbicara tentang norma-norma.

Kalau jawabannya adalah “karena akan menyebabkan kecelakaan bagi orang lain bila kita sembarangan melanggar lampu lalu lintas”, ini Etika Level Tengah. Kita berbicara tentang prinsip tentang sebab akibat.

Kalau kita kejar lagi dengan pertanyaan, “kenapa kita tidak boleh menyebabkan kecelakaan bagi orang lain”, mungkin kita akan temukan jawaban, bahwa, karena kita meyakini keadilan dan kasih sayang. Ini Etika Level Dalam, kita berbicara tentang nilai.

AKU SUKA INI. Aku masih merasa banyak mahasiswaku dalam tahap level etika permukaan. Kenapa harus ngerjain tugas? ya karena disuruh, ya buat ngisi absen juga. Aku masih sangat kesulitan gimana caranya biar mahasiswa punya etika level dalam: “Oh biar aku tahu gimana cara belajar mandiri, biar aku paham”. karena menurutku hakikat guru/ dosen itu fasilitator. Bukan waktunya mahasiswa disuapin mulu. mereka harus mandiri.

Sepakaaaat 🙂 Selama ini, kamu mengatasinya gimana?

Ini aku bingung jawabnya. Kamu harus tanya mahasiswaku secara kualitatif wkwk.


10 thoughts on “Masalah Hidup, Filsafat, dan Segala Tetek Bengeknya

  1. Saya coba menyimak setiap dialog yng ada. Kesan nya baik tapi sisi pesimis nya sedikit mewarnai wawancaranya. Hehhe.
    Overthingking itu hakekatnya baik. Kadang mempertanyakan sesuatu membawa pada sebuah pencerahan. Sudah menjadi kodrat manusia untuk selalu mencari dan mencari. Ketidakpuasan itu proses menjadi. Jadi alami saja sebab kebenaran itu selalu suatu ketersembunyian.
    Salam kenal.😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s