Pulang Malu tak Pulang Rindu

Sudah maghrib, jalanan depan losmen Mirna ramai sekali. Tetapi bukan ramai pergi ke masjid, kebanyakan orang masih ribet membeli ini itu untuk keperluan malam tahun baru. Banyak juga anak kecil masih semburat berlarian di trotoar sambil memegang bungkusan kembang api.

Seorang anak kecil berpipi kemerah-merahan terjatuh depan Mirna.

“Aduh!”

“Hati-hati, nak” sahutnya sambil membantunya berdiri.

“Makasih, tante.” Continue reading “Pulang Malu tak Pulang Rindu”

Advertisements

Seekor Ulat

Rumah kami sungguh kokoh. Dindingnya yang coklat dibangun tinggi. Pilar-pilarnya yang besar menjulang di samping kanan dan kiri. Atapnya bergradasi hijau, semakin keatas semakin muda warnanya.

Aku menempati kamar kecil disudut ruangan. Warna hijaunya tidak terlalu muda, tetapi juga tidak terlalu tua. Ketika aku sudah dewasa nanti warna hijaunya akan berubah menjadi hijau tua, tetapi aku tidak tahu apakah aku akan sempat mengalami masa itu atau tidak. Aku suka sekali berada disini, menikmati hembusan angin yang seakan menari-nari mengelilingi tubuhku, dan ketika cahaya mentari menembus kamarku, aku dapat merasakan hangatnya. Aku harap bisa menikmati hal seperti itu selama aku hidup.  Continue reading “Seekor Ulat”

FFfAW #79: Tiana

photo-20160821095532483

“Morning, sleepy head.”

She kissed my forehead. She was smiling broadly. Her hair was mess. Her face showed its pure beauty without any make up on.

“What time is it, babe?” His head was whirling when he tried to open his eyes.

“It is 7 AM! You should be hurry. You should not drink a lot last night. Look at you. You look terrible. Don’t forget you have to work at 8 AM”

“Tiana, can you just calm down for a second?”

And he embraced her even tighter. Tiana. The bolster. Yes, his bolster which he named it Tiana. The terrible man who have been single for years cannot help himself to not to talk to his bolster.


116 words. My first attempt to write in FFfAW Challenge 😀😀😀

Kontemplasi

Aku paling tidak suka ketika kamu menuntut lebih dari yang aku sanggupi. Kemudian kamu menumpahkan segala kekesalanmu itu, karena kekecewaan yang katamu gara-gara aku. Hey. Padahal, kamu sendiri yang menuntut, mengharap, meronta-meronta, sedangkan aku masih mencintai kebebasanku. Siapa yang suruh mengharap pada manusia. Aku sendiri punya batasan.

Dan cangkang-cangkang, yang ada di seluruh badanmu itu terlalu keras. Tak tertembus bahkan olehku. Lantas bagaimana aku bisa mengerti apa maksudmu, sedangkan kamu masih merengek meminta hati. Dan pikiranmu yang keras kepala itu, sayang. Kapan kamu keluar cangkang. Sepertinya aku terlalu penat untuk menanti. Rasa sayangmu cuman dimulut.

Eh. Kita bukan kekasih.

– G
  00:08 AM