5

Studying at Monash University

Hi guys!

I talked about the differences between studying at Indonesia and Australian uni here.  it was about how the lecturers greet us, how do we should call lecturer, some rules including attendance list, coming late to the class, and how to dress up, and about the reading list. Now I’d like to explain more detail about my experiences at Monash University (so far).

1. Library

Firstly, it is the library. Monash has several libraries and you may visit the page here. I study at Monash Clayton where there are three libraries here, that is Matheson Library, Law Library, and Hargrave-Andrew Library. The library which I’ve visited the most is Matheson. Continue reading

Advertisements
13

Studying at Indonesia Uni vs Australia Uni

G’day mate!

Today I’m going to talk about the differences between studying at Indonesia Uni and Australia Uni. This is based on my under graduate experience at Universitas Brawijaya and currently, I’m studying Applied linguistics at Monash University. I will generalize what’s happen if you study in Indonesia and Australia, but maybe you could have the different experience with me. So if you want to disagree with what I’m saying, you can drop a comment below!

So, shall we start?

Continue reading

13

Visa Student Australia dan Medical Check up di RS Premier Surabaya

Sebelum submit visa, aku harus menyerahkan GTE dan Form 956A yang sudah ditandatangani. Dua hal ini rupanya wajib diisi oleh kita jika ingin membuat Visa pelajar. GTE sendiri adalah Genuine Temporary Entrant yang berisi identitas nama, dan beberapa pertanyaan seperti: tujuan sekolah, jurusan, alasan memilih jurusan tersebut, kenapa memilih Australia sebagai tujuan sekolah, apa hubungan antara jurusan yang dipilih dengan masa depan anda, dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini sedikit mirip wawancara beasiswa dan essay yang aku kerjakan, jadi sebagain jawaban GTE aku copas dari essay beasiswaku (hehe). Lalu Form 956A, kamu bisa klik di google untuk melihat dokumennya seperti apa. Setelah menandatangani semua dokumen itu, maka dokumen harus di scan dan dikirim ke agenku untuk men-submit visa.

Oleh karena itu, kalau beli printer, lebih baik teman-teman beli printer yang otomatis bisa scan, karena dari awal proses beasiswa sampai visa banyak sekali yang di scan. Jadi lebih baik punya scanner sendiri daripada bolak-balik ke warnet atau fotocopy-an. Selain itu, dokumen-dokumen yang scan itu tentu dokumen yang penting dan rahasia. Sehingga, lebih aman juga men-scan di rumah.

Ohya, sebelum submit, kita harus membayar biaya visa terlebih dahulu. Karena aku melalui agen, aku harus membayar visa sebesar Rp 6.800.000,-, sedangkan harga visa-nya sendiri sebenarnya Rp 5.500.000,-. Oleh karena itu, otomatis aku diganti oleh LPDP hanya sejumlah biaya visa, sedangkan sisanya harus merogoh kocek bapak (:”D)

Continue reading

2

Seleksi Administrasi LPDP

Aku mendapatkan beasiswa LPDP batch III tahun 2016. Setelah itu banyak sekali teman-teman yang bertanya tentang bagaimana mendapatkan beasiswa ini. 🙂

Pertama, langsung saja membuat akun LPDP di www.beasiswa.lpdp.kemenkeu.go.id/, sehingga kalian bisa langsung melihat apa saja persyaratn yang harus diupload dan isian yang harus diisi. Pertama yang harus diisi adalah informasi data diri, pendidikan terakhir, dan informasi keluarga.

Setelah itu, klik daftar beasiswa. Ada beberapa pilihan beasiswa yang bisa dipilih jika ingin lanjut ke S2. Ada Beasiswa Pendidikan Indonesia (download panduan disini) dan beasiswa Afirmasi untuk teman-teman yang tinggal di daerah perbatasan (download panduan disini). Setelah itu kalian tinggal memilih magister dalam negeri atau luar negeri. Ohya, untuk jaga-jaga sering berkunjung ke website LPDP saja, incase buku panduannya di-update.

Setelah memilih beasiswa kalian harus memilih universitas dan jurusan yang dituju. Universitas dan jurusan ini harus fix dan harus ada alasannya kenapa memilih universitas dan tujuan tersebut karena nanti akan ditanyakan ketika wawancara dan ada essay tentang study plan. Continue reading