12

How’s Winter in Melbourne?

Hi! Kali ini aku mau bahas tentang winter di Melbourne. Winter berlangsung selama bulan Juni, Juli, dan Agustus, jadi winter akan berakhir dalam beberapa minggu. Yeay! Beruntunglah aku yang datang di Bulan Juli, karena hanya merasakan winter selama 2 bulan (haha).

Ketika aku sampai di Melbourne dan aku bilang ke teman-teman bahwa ini sekarang sedang winter, mereka pasti bertanya, “Ada salju nggak?”, “Fotoin salju dong”. Faktanya adalah tidak ada salju di Australia ketika winter, kecuali kamu pergi ke gunung. Sebenarnya aku juga baru tahu ini ketika aku datang di Melbourne, haha. Aku pikir, dulu sebelum aku datang kesini, bakalan ada salju tipis-tipis di jalan, bakalan mendung terus, gelap, dan kenyataannya mataharipun bisa bersinar sangat cerah di sini.

Continue reading

13

I’m Arrive !

Sebenarnya ini hari ketiga aku sudah sampai di Aussie, tetapi malam ini aku baru sempat menulis di blog lagi. Padahal lebihΒ afdholΒ kalau cerita pengalaman itu langsung ditulis, kan? karena tentu akan lebih mudah menulis secara detail tanpa harus mereka ulang kembali, tetapi apa boleh buat karena baru ini kesempatan aku untuk menulis. Jadi, begini ceritanya:

 

24-hour Journey Continue reading

13

Visa Student Australia dan Medical Check up di RS Premier Surabaya

Sebelum submit visa, aku harus menyerahkan GTE dan Form 956A yang sudah ditandatangani. Dua hal ini rupanya wajib diisi oleh kita jika ingin membuat Visa pelajar. GTE sendiri adalah Genuine Temporary Entrant yang berisi identitas nama, dan beberapa pertanyaan seperti: tujuan sekolah, jurusan, alasan memilih jurusan tersebut, kenapa memilih Australia sebagai tujuan sekolah, apa hubungan antara jurusan yang dipilih dengan masa depan anda, dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini sedikit mirip wawancara beasiswa dan essay yang aku kerjakan, jadi sebagain jawaban GTE aku copas dari essay beasiswaku (hehe). Lalu Form 956A, kamu bisa klik di google untuk melihat dokumennya seperti apa. Setelah menandatangani semua dokumen itu, maka dokumen harus di scan dan dikirim ke agenku untuk men-submit visa.

Oleh karena itu, kalau beli printer, lebih baik teman-teman beli printer yang otomatis bisa scan, karena dari awal proses beasiswa sampai visa banyak sekali yang di scan. Jadi lebih baik punya scanner sendiri daripada bolak-balik ke warnet atau fotocopy-an. Selain itu, dokumen-dokumen yang scan itu tentu dokumen yang penting dan rahasia. Sehingga, lebih aman juga men-scan di rumah.

Ohya, sebelum submit, kita harus membayar biaya visa terlebih dahulu. Karena aku melalui agen, aku harus membayar visa sebesar Rp 6.800.000,-, sedangkan harga visa-nya sendiri sebenarnya Rp 5.500.000,-. Oleh karena itu, otomatis aku diganti oleh LPDP hanya sejumlah biaya visa, sedangkan sisanya harus merogoh kocek bapak (:”D)

Continue reading

8

Kos-kosan

Akhirnya drama pencarian akomodasi di Melbourne sudah selesai :’) * kibarkan bendera merah putih * (Anyway, cerita tentang akomodasi bagian pertama bisa cek disini)

Kenalan kami di Melbourne akhirnya memberikan detail sebagai berikut:

akomodasi ga fix

Harga sewa di tempat beliau adalah $675 satu bulan tetapi ternyata ada tambahan $50 lagi untuk heater. Selain itu masa alas kasur harus bawa sendiri, padahal bawaanku dari rumah tentu sudah pasti sudah banyak. Mencuci pun dibatasi. Walau memang tidak mungkin mencuci setiap hari, yah masa dibatasi. Pemakaian air. listrik, gas tidak dibatasi tetapi berhemat lebih baik. Kesan kalimat ini, kan intinya dibatasi juga. Terlalu banyak aturan dan untuk kesekian kalinya aku tidak srek mengambil akomodasi disini.

Selanjutnya, rice cooker tidak disediakan, padahal kata orang tua rice cooker itu penting, karena mungkin aku tidak bisa langsung makan makanan ala Australia nyel tanpa nasi. Ya kali bawa rce cooker dari Indoensia >< Bisa saja beli di Aussie nanti, tetapi kamar ini bukan permanent, jadi kalau beli dan ternyata kamar yang permanent nanti menyediakan rice cooker kan jadi rugi. Selain itu, ga kebayang kalau boyongan sambil bawa-bawa rice cooker.

Continue reading

6

Temporary vs Permanent

Sekarang sudah Bulan Mei dan aku mempunyai persiapan kurang dari 2 bulan untuk mempersiapkan segala sesuatunya tentang persiapan keberangkatan ke Melbourne (*eh panjang bener kalimatku, pokoknya intinya itu deh). Alhamdulillah visaku sudah granted, tinggal kurang authority to enroll-nya. Maka, setelah urusan visa selesai, yang harus aku pikirkan dan persiapkan adalah akomodasi/tempat tinggal di sana, pakaian hangat sepatu, koper, tiket pesawat, dan lain-lain. Aku sudah menulis daftar belanja sebagai persiapan menghadapi winter di sana. Thanks to beberapa teman LPDP yang sudah di sana dan Kak Didi si empu blog ini: https://didisahertianblog.wordpress.com/

Nah, masalah belanja barang-barang sepertinya cukup mudah, tetapi masalah akomodasi yang agak ribet. Yah namanya beda negara juga ya. Kalau masihnya satu negara, mungkin kita tinggal inspeksi ke kontrakan atau kos-kosan tersebut, dan tentu kita tidak perlu seorang agent untuk sekedar urusan ngekos atau ngontrak. Namun, beda cerita kalau kita mau cari akomodasi di negara seberang.

Continue reading