How’s Winter in Melbourne?

Hi! Kali ini aku mau bahas tentang winter di Melbourne. Winter berlangsung selama bulan Juni, Juli, dan Agustus, jadi winter akan berakhir dalam beberapa minggu. Yeay! Beruntunglah aku yang datang di Bulan Juli, karena hanya merasakan winter selama 2 bulan (haha).

Ketika aku sampai di Melbourne dan aku bilang ke teman-teman bahwa ini sekarang sedang winter, mereka pasti bertanya, “Ada salju nggak?”, “Fotoin salju dong”. Faktanya adalah tidak ada salju di Australia ketika winter, kecuali kamu pergi ke gunung. Sebenarnya aku juga baru tahu ini ketika aku datang di Melbourne, haha. Aku pikir, dulu sebelum aku datang kesini, bakalan ada salju tipis-tipis di jalan, bakalan mendung terus, gelap, dan kenyataannya mataharipun bisa bersinar sangat cerah di sini.

Jadi, apa sih yang beda di winter-nya Aussie?

Pertama, di sini anginnya kalau winter sangat kencang (eh aku belum tahu sih nanti kalau spring, autumn, lalu summer gimana). Tapi kecepatan anginnya pernah bisa sampai 40 km/hour. Itu badan berasa kayak kebawa-bawa angin.

Kedua, seperti yang aku bilang sebelumnya, walau musim dingin, matahari bisa bersinar sangat cerah. Aku suka sekali karena di kamarku ada dua jendela besar dan ketika matahari masuk, kamar langsung hangat. Namun ketika aku keluar rumah, walaupun ada matahari, tetap aja suhunya dingin.

IMG_1181

a sunny-cold day!

Ketiga, walaupun winter, bisa aja lo hujan. Dulu aku pikir tidak ada hujan ketika winter, pokoknya musim dingin itu bakalan dingin aja suhunya tanpa hujan. Ternyata bisa saja hujan padahal masih di bulan Juli. Jadi harus rajin-rajin cek winter forecast agar tidak salah kostum. Ohya tapi hujan di sini tidak seperti hujan di Malang. Kalau di Malang sekali hujan bisa sangat deras dan sampai berjam-jam, sedangkan di sini belum pernah hujan sampai sangat deras lalu sampai ada guntur tidak pernah. Mungkin hanya gerimis kecil-kecil kurang dari 1 jam.

Keempat, suhunya. Jelas lah ya, ketika Juli kemarin suhu rata-rata di bawah 10°C, sedangkan Agustus ini rata-rata sejauh ini suhu 10-15°C. Pernah waktu itu 1°C waktu subuh dan wudhu adalah sungguh sebuah perjuangan. Air wastafel untuk wudhu memang bisa dibuat hangat, tapi tetep aja dingin. Sehingga ketika dhuhur aku selalu menjaga wudhu sampai ashar, dan ketika mahgrib aku selalu menjaga wudhu sampai isya’ agar wudhunya tidak terlalu sering. Jadi, waktu teman-teman kemarin bilang Kota Malang suhunya menurun dan jadi dingin, belum apa-apa kalau di banding Melbourne.

Lalu, karena aku datang dari daerah tropis, badanku butuh banyak penyesuaian. Kulitku sangat kering dan 2-3 minggu pertama aku sering terbangun malam-malam karena badanku gatal-gatal dan gatal-gatal itu cuman di malam hari. Setelah aku cek di google, ternyata kulit gatal-gatal/night itchiness biasa terjadi di winter dan beberapa cara menguranginya adalah memakai moisturiser dan memakai pakaian katun yang nyaman di kulit. Cek: Itching at Night.  Setelah itu, aku langsung beli 1 liter moisturiser yang aku pakai setidaknya dua kali sehari dan mengganti seprei di kasur juga karena web tersebut juga mengatakan ada kemungkinan gatal-gatal disebabkan karena serangga. dan alhamdulillah sekarang aku tidak gatal-gatal ketika malam. #curhat

 

Enaknya winter di Melbourne?

Clothes! Haha. Karena banyak coats yang lucu-lucu dan fashonable yang bisa dipakai selama winter yang tidak bisa aku pakai di Indonesia. Selain baju, banyak juga boots yang lucu-lucu yang bisa dipakai. Aku suka pakai boots karena hangat di kaki, kalau pakai sepatu biasa angin bisa masuk dan menjangkau telapak kaki, and it’s freeze!

IMG_2054

I love this boots! ❤

Anyway tentang pakaian aku ada beberapa saran untuk kalian yang mau datang ke Melbourne ketika winter. Pertama, selalu cek winter forecast agar tidak salah kostum. Kalau suhu dibawah 10°C, maka memakai long john atau heattech itu recommended, dan jangan lupa pakai coat. Kalau hujan, daripada ribet bawa payung aku biasa pakai coat yang anti hujan, it’s pretty handy. Lalu, kalau anginnya 30-40 km/hour pakai aja syal karena leher dan muka bisa kedinginan (haha). Kalau suhu sudah belasan °C aku biasanya cuman pakai knitwear/sweater dan itu udah ga kedinginan (atau bisa jadi badanku udah adaptasi). Lalu untuk sepatu, karena hujan suka dadakan pakai boots sangat recommended. Kalau sepatu sudah basah, repot banget, karena kalau winter apa-apa yang dijemur lama keringnya. Dan sulit bedain masih basah atau ngga, karena tangan membeku ~

Lalu, selain pakaian, puasa ketika winter itu menyenangkan. Subuh jam 6 am, jadi bisa bangun pukul 5.30 am untuk sahur. Kemudian maghribnya antara 5.30 – 06.00 pm. Puasa cuman sebentar kalau dibandingkan di Indonesia dan karena musim dingin, tidak mudah lelah, jadi enak kalau mau bayar hutang puasa ramadhan di musim dingin.

Jadi, itu pengalaman aku tentang winter. See you in the next post! 🙂

 

  • Clayton, 8:47 am, 13°C –

 

Advertisements

12 thoughts on “How’s Winter in Melbourne?

  1. 13℃ hmm, mirip-mirip dinginnya pas di gunung gt kayaknya ya mbak. Okelah dinginnya bisa ngerasain. Hihi.
    Ternyata ga ada salju sama sekali ya mbak, cuma ada di gunung. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s