Visa Student Australia dan Medical Check up di RS Premier Surabaya

Sebelum submit visa, aku harus menyerahkan GTE dan Form 956A yang sudah ditandatangani. Dua hal ini rupanya wajib diisi oleh kita jika ingin membuat Visa pelajar. GTE sendiri adalah Genuine Temporary Entrant yang berisi identitas nama, dan beberapa pertanyaan seperti: tujuan sekolah, jurusan, alasan memilih jurusan tersebut, kenapa memilih Australia sebagai tujuan sekolah, apa hubungan antara jurusan yang dipilih dengan masa depan anda, dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini sedikit mirip wawancara beasiswa dan essay yang aku kerjakan, jadi sebagain jawaban GTE aku copas dari essay beasiswaku (hehe). Lalu Form 956A, kamu bisa klik di google untuk melihat dokumennya seperti apa. Setelah menandatangani semua dokumen itu, maka dokumen harus di scan dan dikirim ke agenku untuk men-submit visa.

Oleh karena itu, kalau beli printer, lebih baik teman-teman beli printer yang otomatis bisa scan, karena dari awal proses beasiswa sampai visa banyak sekali yang di scan. Jadi lebih baik punya scanner sendiri daripada bolak-balik ke warnet atau fotocopy-an. Selain itu, dokumen-dokumen yang scan itu tentu dokumen yang penting dan rahasia. Sehingga, lebih aman juga men-scan di rumah.

Ohya, sebelum submit, kita harus membayar biaya visa terlebih dahulu. Karena aku melalui agen, aku harus membayar visa sebesar Rp 6.800.000,-, sedangkan harga visa-nya sendiri sebenarnya Rp 5.500.000,-. Oleh karena itu, otomatis aku diganti oleh LPDP hanya sejumlah biaya visa, sedangkan sisanya harus merogoh kocek bapak (:”D)

Setelah submit, dua hari berikutnya aku diminta untuk cek kesehatan. Batas cek kesehatan adalah dua minggu setelah submit. Jika tidak cek kesehatan, otomatis visa kita ditolak. Aku cek kesehatan satu minggu setelah submit, karena tunggu gaji turun dulu (haha). I was intended to pay the medical check up by my own salary, because dad had paid for me a lot. Selain itu, biaya medical check up visa tidak murah, yaitu adalah Rp 890.000,-.

Untuk medical check up visa Australia hanya bisa di Rumah Sakit Premier. Rumah Sakit Premier ini ada di beberapa kota besar, seperti Surabaya, jakarta, dll. Otomatis aku ke Surabaya karena kota ini yang terdekat dari kotaku, Malang. Karena jauh, aku harus membuat janji dulu dengan dokter di RS Premier.

Waktu itu Hari Sabtu, 29 April 2017. Aku bertanya kepada Dokter L apakah Hari Senin, 1 Mei aku bisa medical check up di Premier. Senin itu memang tanggal merah (hari buruh nasional), tetapi aku tetap bertanya apakah bisa mengadakan tes di hari itu walaupun tanggal merah. Lalu si dokter pun mengatakan aku bisa tes di ahri tersebut, dan langsung ke Dokter R, karena beliau sedang berlibur di Europe.

Seninnya, tanggal 1 Mei 2017. Aku ke Surabaya bersama ayah dan ibuku. Sesampainya di resepsionis, setelah perjalanna kurang lebih 3 jam, ternyata bagian resepsionis mengatakan hari senin tersebut tidak bisa mengadakan medical check up karena hari libur nasional (jeng-jeng!). Lalu, aku menunjukkan chat whatsapp-ku dengan Dokter L, bahwa beliau menyuruhku langsung datang di Hari Senin. Bagian resepsionis pun mulai bingung. Beliau menelfon Dokter L, namun tidak dapat dihubungi, karena beliau sedang dalam masa libur. Lalu, aku chat whatsapp beliau juga masih centang satu. Lalu akhirnya bagian resepsionis, menelfon dokter R dan E. Dan pada akhirnya besok aku harus kembali lagi ke RS dan langsung menemui Dokter R.

Malam harinya Dokter L membalas, “kan saya sudah bilang bu, kalau lagi libur.” Yang intinya, beliau minta maaf tapi terlalu mengakui kesalahannya dan bilang seperti itu. Aku sedikit kesal dengan Dokter L, ya memang beliau sedang cuti, tetapi kalau begitu jangan seenaknya membuat perjanjian dengan pasien. Alangkah lebih baiknya jika aku waktu itu langsung diberi nomor Dokter R atau langsung dihubungkan dengan Dokter R yang manangani aku. Penanganan bagian resepsionis lebih baik daripada si dokter, menurutku.

Dan keesokan harinya, aku dan ayah berangkat tepat setelah habis shubuh. Ayah mengendarai satria kesayangannya dan kami menuju ke Terminal Arjosari. Di sana kami mencari dengan tujuan Surabaya. Bus Restu, kesayangan ayah, rupanya banyak peminat hari itu dan kami tidak kedapatan naik bus tersebut. Akhirnya kami naik bus biasa, yang kursinya kursi biasa dan agak sedikit kecil dibanding Bus Restu (dan otomatis aku kegencet oleh badan ayah yang gedean daripada aku, turun bus rasanya lega). Sebelumnya, kami menghabiskan waktu 3 jam dari rumah dengan taksi, llau lanjut ke terminal dengan bus. Pada tanggal 2 Mei, karena itu hari pertama kerja setelah libur beberapa hari, situasi perjalanan sangat padat. Sehingga kami membutuhkan waktu 4-5 jam, dan sampai di rumah sakit sekitar pukul 08.30 atau 09.00. Padahal sudah berangkat lebih pagi dari sebelumnya, dan naik sepeda montor yang jelas jauh lebih cepat daripada taksi.

Di Rumah Sakit Premier, aku langsung bilang ke bagian resepsionis, “Medical Check up bagian atas, pak ya?”

“Iya,” sahut beliau yang sudah tahu aku.

Di atas aku langsung menuju ruangan medical check up visa dan mengisi formulir, lalu antri untuk tes urine, foto rontgen, dan bertemu dengan dokter. Karena sebelumnya ada kesalahan, aku dilayani dengan sangat baik oleh mereka(haha). Kerja mereka juga cepat. Jadi sekitar pukul 11, aku sudah bisa mendapatkan hasil cek urine. Namun, ternyata hasil urine-ku kurang memuaskan, karena katanya aku kurang minum air putih sehingga mempengaruhi hasilnya. Lalu aku diminta untuk makan siang terlebih dahulu dan minum 5 gelas air.

Ketika makan siang, ayah memutuskan agar aku makan soto saja, agar hasil tes urine baik-baik saja. Aku tidak tahu apa hubungannya, tapi aku iya-iya sajalah. Setelah makan, dalam jangka waktu satu jam, aku menghabiskan dua botol air minum. Aku memperkirakan satu botol air mineral itu sama dengan dua gelas air mineral. Serius, mabuk air rasanya. Rasanya tidak kuat beridiri dan pokoknya kenyang air. Aku tidak bisa minum lagi sudah, walau suster minta aku seharusnya minum 5 gelas air.

Lalu, aku mengambil sampel urine dan menunggu hasil tes lagi. Setelah satu jam, hasil tes urine pun keluar. Lucunya, urine tidak bermasalah, tetapi justru gula darahku yang semula 0 mg naik menjadi 150 mg. ><

“Habis makan apa kamu?” tanya suster.

“Soto loh sus, padahal.”

“Sama teh anget?”

“Enggak, air putih.”

“Yaudah, saya submit hasil kesehatanmu yang pertama saja ya. Semoga gapapa.”

“Loh kalau kenapa-kenapa masa ulang lagi susmedical check up-nya?” sambil aku mmebayangkan jika harus menghabiskan uang Rp 890.000,- lagi.

“Gapapa coba aja, sekarang pulang dulu, nanti kami kabari.”

Lalu, aku pun pulang dengan agak deg-degan. Tapi, masa iya cuman gara-gara kurang minum air putih atau gula darah naik visa ditolak?


 

Setelah menungu selama dua hari, akhirnya aku mendapat email dan chat whatsapp dari agenku bahwa visa-ku diterima, yey!

Alhamdulillah, sejauh ini aku sudah dapat visa, akomodasi temporer, dan sudah membeli beberapa barang untuk persiapan musim dingin di sana. Ternyata banyak juga yang harus dibeli. Nanti aku ceritakan, di post selanjutnya. πŸ˜€

See, ya!

Advertisements

13 thoughts on “Visa Student Australia dan Medical Check up di RS Premier Surabaya

  1. Halo , Mbak Tiwi .
    Saya Edi , sdang apply visa juga .
    Kebetulan kemarin sudah diinterview by phone .
    Saya ingin bertanya , apakah Mbak sempat diinterview , dan email yg mengarahkan Mbak utk MCU itu jaraknya berapa lama setelah interview by phone ya , Mbak .
    Terima kasih sebelumnya .

    Liked by 1 person

  2. Ada proses panjang yang harus dibayar untuk masa depan yang gemilang, semangat kak Gadis! 😘
    Entah di sini soto menjadi penyebab atau malah anugerah πŸ˜‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s