Temporary vs Permanent

Sekarang sudah Bulan Mei dan aku mempunyai persiapan kurang dari 2 bulan untuk mempersiapkan segala sesuatunya tentang persiapan keberangkatan ke Melbourne (*eh panjang bener kalimatku, pokoknya intinya itu deh). Alhamdulillah visaku sudah granted, tinggal kurang authority to enroll-nya. Maka, setelah urusan visa selesai, yang harus aku pikirkan dan persiapkan adalah akomodasi/tempat tinggal di sana, pakaian hangat sepatu, koper, tiket pesawat, dan lain-lain. Aku sudah menulis daftar belanja sebagai persiapan menghadapi winter di sana. Thanks to beberapa teman LPDP yang sudah di sana dan Kak Didi si empu blog ini: https://didisahertianblog.wordpress.com/

Nah, masalah belanja barang-barang sepertinya cukup mudah, tetapi masalah akomodasi yang agak ribet. Yah namanya beda negara juga ya. Kalau masihnya satu negara, mungkin kita tinggal inspeksi ke kontrakan atau kos-kosan tersebut, dan tentu kita tidak perlu seorang agent untuk sekedar urusan ngekos atau ngontrak. Namun, beda cerita kalau kita mau cari akomodasi di negara seberang.

 

Jadi kalau di Australia, ada yang namanya akomodasi On campus dan off campus. Kalau on campus, itu berarti seperti dorm, intinya kampus menyediakan akomodasi juga. Fasilitasnya memang luar biasa, tetapi biaya sewanya juga luar biasa, yaitu sekitar $250 seminggu. Ada juga akomodasi off campus yang berarti tidak disediakan oleh kampus. Nah akomodasi ini tipenya banyak juga. Hal ini bisa dibaca lebih lengkap di website kampusku: https://www.monash.edu/accommodation/accommodation/off-campus-options. Tipe akomodasi off campus yang paling banyak diambil oleh mahasiswa Indonesia adalah shared house.

Shared house ini berarti satu rumah terdiri dari beberapa kamar, lalu kamar-kamar ini disewakan. Sewa satu kamar model shared house begini antara 600-900 tergantung fasilitas (fully furnished atau unfurnished), walking distance dengan kampus, biaya termasuk bill listrik, air, dll atau tidak. Teman satu rumah bisa sesama single atau keluarga.

So, here are my problems.

Pertama, orang tua mensyaratkan bahwa teman shared house yang sesama single ladies, which is quite hard, karena kebanyakan teman shared house adalah yang berkeluarga. Alasan mereka karena ada suami, tidak syar’i dalam rumah, takut diapa-apakan. Padahal sebelumnya aku sudah mendapatkan tempat permanent, dekat dengan kampus, dengan harga hanya $650, sudah fully furnished, include all bills. Sehingga terpaksa aku lepas akomodasi ini karena syarat ortu. Padahal juga, sebelumya sudah aku pikirkan baik-baik, bahwa pertama mereka semua awardee LPDP, masa iya mau berbuat enggak-enggak. Karena kalau berbuat enggak-enggak sudah pasti kena sanksi LPDP, karena sudah ada kontrak. Kedua, walaupun ada laki-laki di dalam rumah, aku bisa pakai jilbab kan kalau keluar kamar. Jadi, aku pikir sebenarnya bukan masalah besar. Selain itu, kemungkinan besar kalau siang hari atau pagi paling sering di kampus, daripada di rumah.

Kedua, temporary vs permanent.

Kalau kamu mahasiswa internasional, sebelumΒ  settle di Australia, kamu bisa memilih temporary accommodation atau permanent accommodation. Aku memilih permanent (sebelumnya) karena di Bulan Juli sudah banyak jadwal dari kampus dan aku tidak mau repot-repot mengurus akomodasi lagi. Selain itu, kalau permanent, karena sudah jelas tempat tinggalnya aku bisa mengatur sepuasnya, bisa menambah furniture, dan lain sebagainya. Namun karena tidak cocok dengan tenant, akomodasi yang sudah aku dapat harus rela aku lepas.

Tetapi lagi-lagi orang tua mintanya temporary dulu. Ya, aku paham pertimbangan mereka nanti bisa lihat-lihat dulu di sana dan lain sebagainya, tetapi mereka kurang bisa menerima keputusanku, padahal nanti aku yang tinggal disana. Ohya, tentu aku juga sudah banyak membaca tentang temporary dan permanent di internet, serta bertanya ke teman-teman yang sudah di Melbourne. Dan, dari pertimbanganku, aku lebih nyaman kalau sudah menemukan tempat yang permanent, at least untuk satu semester. Namun, repot juga kalau orang tua tidak ikhlas, so I don’t know what to do. hahah

Selain itu, orang tua terpengaruh dengan seorang kenalan di sana. Jadi, kami memiliki teman ustad, lalu ustad ini punya teman di Melbourne, dan kami dikenalkan oleh beliau. Bahkan di buatkan group yang isinya ustad tersebut, ayah ibuku, aku, dan kenalannya. (OMG). Aku meminta informasi akomodasi, tetapi justu ditawari temporary akomodasi oleh beliau, which is a good thing and a bad thing.

The good thing is, akomodasi yang beliau tawarkan itu cukup murah yaitu 675 dollar perbulan, fully furnished tetapi detailnya tidak dijelaskan, dan termasuk seluruh tagihan air, internet, dan lain-lainnya. Lalu lokasinya juga cukup dengan kampus, sehingga aku cukup jalan kaki saja kalau ke kampus.

Hal yang tidak aku suka adalah beliau cenderung pemaksa. Pertama, ketika aku menanyakan akomodasi, beliau langsung menawarkan akomodasi temporary miliknya dan menjelaskan panjang lebar bahwa temporary itu lebih afdhol, daripada permanent. Lalu, beliau berkata bahwa di Australia itu banyak peraturan terkait agensi. Banyak mahasiswa oleh tenantnya tidak dilaporkan oleh agensinya, tetapi tidak dijelaskan konsekuensinya apa. Kemudian beliau semacam memberikan generelisasi bahwa banyak sekali mahasiswa yang membisniskan shared house-nya atau apa-apalah. Mungkin niatnya baik, yaitu memberi tahu atau mengingatkan. Namun kesannya, memaksa. Dan menakut-nakuti.

ah, I don’t like this kind of person. Sebenarnya aku kurang rela kalau harus menginap di rumah beliau selama sebulan. But I don’t have any choice if my parents force me to take the accommodation. Namun sampai sekarang beliau belum memberi kabar tentang detailnya akomodasi yang beliau tawarkan seperti furniture apa saja yang beliau sedaiakan.

Seharusnya, kalau misalnya beliau bijak sih, beliau tidak perlu mendesak seperti itu, dan tetap memberikan arahan.

😦

 

Advertisements

6 thoughts on “Temporary vs Permanent

  1. Pingback: Kos-kosan | Gadis Pratiwi

  2. I think you have done your research. I feel a bit uneasy with the last accommodation you talked about. It sounds like there is a red flag; he’s not being upfront with everything. And you should mention to your parents about that. Wishing you all the best sweetie! πŸ€—

    Liked by 1 person

  3. Menurut saya sih Dis ..

    Ajak orang tua duduk sekali lagi. Jelasin lagi baik-baik pilihanmu. Sebelumnya tekankan bahwa kamu sudah meriset dari semua jaringan awardee LPDP, dan kamu yang akan tinggal di sana.

    πŸ˜ƒ

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s