Pulang Malu tak Pulang Rindu

Sudah maghrib, jalanan depan losmen Mirna ramai sekali. Tetapi bukan ramai pergi ke masjid, kebanyakan orang masih ribet membeli ini itu untuk keperluan malam tahun baru. Banyak juga anak kecil masih semburat berlarian di trotoar sambil memegang bungkusan kembang api.

Seorang anak kecil berpipi kemerah-merahan terjatuh depan Mirna.

“Aduh!”

“Hati-hati, nak” sahutnya sambil membantunya berdiri.

“Makasih, tante.”

Anak kecil itu sekilas mengingatkannya pada anaknya yang mungkin sekarang sudah SMP. Sudah bertahun-tahun memang ia tak pulang rumah, walau rindu sudah mulai menumpuk di dalam dadanya.

“Ah, bagaimana bisa aku pulang, bisa-bisa dia malu punya ibu seperti aku. Biarlah dia berfikir ibunya sudah mati.”

Ia pun membuyarkan lamunannya dan keinginannya untuk bertemu anaknya. Lalu, ia masuk ke dalam kamarnya dan bersiap-siap. Memakai kaos putih dan bra warna hitam yang memang disengaja dengan paduan rok mini diatas lutut. Tak lupa pula ia memakai lipstik warna merah dan parfum yang bisa dicium dari jarak 5 meter.

“Mir, udah siap?” teriak Bu Romlah dari luar kamar.

“Iya bentar, lagi.”

“Udah banyak yang antri nih, malam tahun baru pula. Tarifnya dua kali lipat lo hari ini”

Mirna tersenyum pahit. Seperti biasa, ia harus melayani mereka yang ingin dipuaskan nafsunya.

Advertisements

3 thoughts on “Pulang Malu tak Pulang Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s