IPK

Ada sebuah akun kontroversial. Biasanya aku suka tulisan-tulisan dia. Kadang frontral, kasar, semene-mena, tetapi jujur. Namun, aku tidak setuju dengan postingan admin di atas, pasalnya begini:


First guys, you can be everything you want. Bukan berarti kalau IP kamu diatas 3,8 kamu akan menjadi seorang akademis cihuy dan jika IP kamu di bawah 2, maka kamu akan menjadi seorang politisi. Itu namanya judgement dan pembodohan. Kalian bisa menjadi apapun yang kalian mau asal kalian berusaha, bekerja keras, dan memang menginginkan hal tersebut. And make sure you know what you are doing and what your capability is. Ngga ada orang yang tidur-tiduran aja dan keesokan harinya dia tiba-tiba jadi bos di sebuah perusahaan besar. Mimpi? Tidur aja terus.

“Dan gua paling benci dengan mahasiswa yang IPK-nya dibawah 2, karena kelak orang seperti itu akan berbahaya, sebab mereka susah mencari pekerjaan, oleh karena itu mereka akan menjadi politisi handal yang mempengaruhi kebijakan negeri ini, dan mereka yang menentukan disetujui atau tidaknya proyek kami”. 

Nah gini ya kalau dosen itu cerdas dan takut mahasiswa yang IPK dibawah 2, ya udah jangan dikasih nilai C atau D. C+ lah minimal. Problem solved. Kemudian, kalau sudah tahu mencari pekerjaan sulit, ya belajar. Biar ilmunya dapet dan nilai juga dapet. Sudah tau sendiri kalau IPK bukan segalanya, tetapi segalanya berawal diri IPK. Kerja keras, cong.

Ketiga, kenapa sih seorang mahasiswa bisa mendapat IPK rendah? Kalau sudut pandang aku sebagai asdos, IPK adalah refleksi dari keberhasilan mahasiswa. Berarti dia sukses belajarnya, ilmunya dapet, dan itu tertuang di tugas dan hasil ujiannya. Apalagi kalau ujiannya berupa esay atau project, menurutku itu tipe tipe ujian yang berbobot yang bener bener ‘menilai’ apakah si mahasiswa berhasil menguasai mata kuliah atau tidak. Lantas, kenapa ada yang bisa mendapat nilai rendah? Bisa jadi karena mahasiswa tersebut tidak pernah masuk, tidak mengerjakan tugas, tidak pernah membaca buku, males, dan lain sebagainya. Intinya dia masih belum menguasai materi perkuliahan. Saya sendiri menghargai proses. Kalau seorang mahasiswa dia aktif di kelas, bertanya atau merespon pertanyaan, mengerjakan tugas, I’ll make sure that their GPA will be fine. Namun, kalau seorang mahasiswa itu cuman main-main, tidak mengahargai pengajar dan tidak menghargai ilmu, ya jangan harap dapat IPK bagus. Ilmu ga dapet, IPK ga dapet. Nah sekarang, kalau misalnya politisi kita seperti itu, politisi yang menentukan kebijakan kebijakan segala macam dan menentukan disetujui tidaknya sebuah proyek, negara kita mau jadi apa? Tong kosong nyaring bunyinya.

Itu kalau dari perspektif aku. Dalam menilai mahasiswa, tentu ada indikatornya dan sebagai dosen kita tidak boleh subjektif. Namun sayangnya memang ada dosen yang subjektif. Misalnya dia ga suka liat mahasiswa pacaran, padahal dia pinter banget di kelas, tetapi si dosen ga mau tau dan tetep ngasih mahasiswa nilai C. Itu sebenarnya yang ga boleh.

“Gua tidak senang dengan mahasiswa yang IPK-nya 2-3 karena mereka akan menjadi businessman yang tidak bisa gua setiri.”
 
Hellow. Itu pilihan kamu mau disetir orang atau nggak, mau jadi businessman atau nggak, its all about passion, dude. Bukan berarti jika jadi akademisi atau ikut proyek dosen, otomatis kamu berhak disetiri oleh orang-orang tertentu, ya gak lah. Aku pernah ikut MLM, jualan pulsa, ini itu, tapi ga bertahan lama, karena memang aku ngga minat. Semua orang bisa kok menjadi pebisnis tanpa melihat IPK kamu berapa.

Jadi guys, hidup itu pilihan. Kalian ingin IPK bagus, biasa-biasa saja, jelek, terserah. Aku yakin setiap mahasiswa memaknai IPK sebagai hal yang berbeda-beda. Namun tidak perlulah kita men-judge bahwa kalau IPK tinggi maka stuck akan menjadi akademisi, dan IPK rendah akan stuck menjadi politisi. Berhentilah mempunyai pikiran yang square-minded. Jijik. Dunia itu luas kok.

Anyway, are you standing in the other side? State your own argument 🙂

Advertisements

One thought on “IPK

  1. keren artikelnya,
    tapi pada akhirnya kembali ke mahasiswa itu sendiri bagaimana dia memandang IPK. yang mandang penting harusnya IPK'nya lebih tinggi ketimbang yang mandang IPK itu biasa-biasa aja apalagi yang mandang gal penting, selama gak ketabrak dosen subjektif. haha

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s