What Normal Is

You can not define normal, if you don’t know what normal is. Meanwhile, every person has their own meaning in describing “normal”. Thus, normal is just an illusion, a boundary, a stereotype, and a square minded.

Aku sendiri sendiri sebenarnya sering berfikir ingin memiliki keluarga yang normal, karena aku merasa hidup dalam lingkaran yang abnormal. My mom and dad are so strict, kind of a very discipline person, and kind of parents who would not allow their daughter to hangout at night time. Pokoknya aku merasa itu tidak normal jika dibandingkan dengan teman-temanku yang bisa hangout kesanah dan kemarih dengan leluasah.

Perihal normal, beberapa hari lalu aku berdebat dengan muridku. Sebelum aku cerita tentang perdebatan kami, let me tell you about him. Dia laki-laki kelas XI di salah satu SMAK di Malang yang di samping sekolahnya banyak orang jualan pangsit yang enak dan hits (orang Malang pasti ngerti). Dia murid di bimbingan belajar tempat aku kerja. Kemarin, hari kamis, pertama kalinya aku mengajar dia. Aku agak-agak was-was karena dia anaknya agak songong, but I try to keep myself chillax (chill and relax). Hari itu, ketika aku tanya ingin belajar apa, dia bilang gatau dan gamau belajar. Dia merasa dia sudah bisa semua materi Bahasa Inggris. Materi kelas XI kebanyakan berupa text seperti narrative, procedure, dll dan dia bilang kalau semua itu nggak berguna. Mengerjakan soal pun dia tidak mau. Ketika aku bertanya jika tidak mau belajar seperti itu, kenapa masih les disini, dia bilang dia dipaksa mamanya les. Namun uniknya, dia tidak mau kehilangan waktu sedetikpun. Dia tidak mau aku korupsi waktu seperti pulang lebih cepat sebelum jam berakhir (karena ada muridku yang seperti itu dan dia benar-benar ngga bisa dipaksa untuk belajar full time).

Dia bilang gamau kehilangan waktu sedetikpun karena: “Cause I’m chinese and I waste my time and my money in a shit place like this to pay someone like you.”


Exactly like that. Kalau aku baperan mungkin aku udah nangis berok-berok di dalam ruangan minta berhenti kerja. XD

Anyway, karema dia ngga mau belajar akhirnya kita mulai sesi ngobrol aja, in English of course. He said, “I don’t want to learn English, but I speak English.” and apparently, his English is excellent although he is an annoying bastard. Dia sering juara nasional debat beberapa kali. Nah, debat itu dibagi jadi tiga sesi. Sesi satu perkenalan, sesi 2 adalah sesi pembantaian pendapat lawan dan memberikan idea yang berlawanan dari pihak lawan, dan sesi 3 acked like monk, kata muridku. Untuk sesi 2, sesi 2 cocok untuk seseorang yang annoying jerk, oleh karena itu dia ditempatkan di sesi 2. (yes he admit that he is an asshole bastard).

Terus ngga tau kenapa percakapan kami nyambung ke perihal normal. Dia, muridku itu, sebut saja C, berkata bahwa normal itu tentang ‘majoritas’, yang kebanyakan orang seperti itu, sudah umum, sehingga sesuatu yang minoritas dia anggap tidak normal. Misal, orang-orang yang difabel itu menurut dia tidak normal karena menurut dia mereka berbeda. Anak autis itu nggak normal, karena menurut dia, mereka agak kurang nyambung dengan kita yang mayoritas tidak autis.

Aku tidak setuju. Aku bilang orang difabel itu tetap normal. Mereka bukan tidak normal, tetapi hanya berbeda. Misalnya, tuna netra, walaupun mereka tidak bisa melihat dengan mata aku yakin mereka punya cara lain untuk melihat. Tuna rungu, mereka punya cara lain untuk berkomunikasi. Dan keterbatasan mereka itu tidak membatasi mereka untuk melakukan sesuatu hal. Tentang anak autis, aku bilang bahwa, anak autis itu bukannya tidak normal, tetapi mereka memang punya dunia sendiri, dan bagi mereka itu normal.

C tidak setuju lagi. Dia menyanggah pendapatku. Dia berkata, “Tuna netra matanya bisa fungsi nggak?”

“Nggak.”

“Yaudah berarti nggak normal kan. Namanya juga dinamakan disabel, disability, dis-ability. Aku ngga bilang mereka ngga bisa melakukan seperti kita tetapi secara fisik mereka beda jadi nggak normal.”

“Mereka itu tetep normal, cuman berbeda. Normalnya mereka ya seperti itu. Aku pernah ngomong sama temenku yang tuna rungu, bagi mereka kita ini yang nggak normal. So, normal is just a matter of perspective.”

“Exactly. Normal is just a matter of perspective, tapi mayoritasnya gimana, secara mereka minoritas, jadi ngga normal.”

Dan perdebatan kami mbulet disitu, terus ngga tau kenapa tiba-tiba kami ujug-ujugnya mbahas tentang pacar masing-masing. XD Sebenernya penjelasannya dia agak mbulet cuman dia menang ngetet dan bahasa inggrisnya lebih bagus dan bisa deliver dengan baik. Meskipun dia menyebalkan, it is fun to have a conversation with him in 100% full English because I barely have no partner to speak English.

Hari ini, hari Jumat, dia minta les lagi sama aku. Aku pikir dia ngga suka aku, karena di awal dia bilang kalau dia itu orang Cina yang harus mbayar orang seperti aku XD. Mungkin tentor sebelumnya mudah terintimidasi oleh dia, sehingga mungkin dia menganggap aku lawan debat yang pantas. Entah. Atau mungkin karena ngga ada tentor lain yang mau sama dia, tinggal seorang ibu-ibu dan itu dia ngga suka. Tapi untungnya hari ini aku ngurus paspor jadi ngga bisa ngelesi dia, karena aku lagi kehabisan topik debat XD

See, what do you think guys? In what extent do you agree that normal is based on the majority, or do you agree with me that normal is just an illusion, it is depend on one’s perspective. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “What Normal Is

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s