Ayah

Kalau ingat-ingat sempro (seminar proposal), aku jadi senyum-senyum sendiri. Teman-teman mengira aku ingin skripsi cepat selesai karena ingin cepat nikah. Aku senyumin aja. Mau nikah dengan siapa coba? What a ridiculous thought~ Actually daddy is one of the reason why I came this far. (Alah, padahal belum semhas belum apa-apa lo). Dan beliau akhir-akhir ini, setiap hari, selalu bertanya, “Kapan ambil data penelitian? Kapan ambil data penelitian?” Berulang-ulang kali padahal sudah aku jelaskan aku harus revisi dulu setelah sempro ini. Gimana aku ga semangat? :3

Seminggu sebelum sempro, aku cerita ayah bahwa aku akan sempro hari Selasa minggu depannya. “Alhamdulillah.” kata ayah dengan tenangnya padahal aku grogi banget. Aku cerita mama, mama juga tenang-tenang saja menangapinya karena dulu skripsinya juga ngga ada sempro-semproan. Dan waktu itu, ketika aku sedang sempro, ayah sedang menguji skripsi. Nanti suatu ketika aku ingin juga berada dalam posisi ayah.

Kemudian alhamdulillah sempro berjalan dengan lancar, tapi kali ini aku tidak ingin bercerita tentang sempro atau semua hal tentang skripsi. Tulisan ini tentang ayah.

Ayah itu, diumur kepala 4, tetap romantis ke mama. Mama ingin ini itu diturutin, kalau mama ngambek di rayu-rayu, manggilnya sayang-sayang. Namun, aku dan ayah juga ngga kalah romantis. Setiap minggu pagi kami lari pagi di stadion dekat rumah. Mama udah ngga kuat lari, kalau adik-adikku lebih suka lari dari kenyataan~ Jadi tinggal aku dan ayah dan pokoknya kebiasaan lari pagi di hari minggu itu udah aku dan ayahku banget. Our quality time like this is our thing. Anyway, di stadion aku selalu melihat pasangan-pasangan mbak-mas yang lagi lari bareng. Iriiii banget rasanya. Someday pengen juga lari bareng pasangan hidup, tapi at least sekarang ada ayah yang nemenin. Cuman kami loh pasangan ayah-anak yang mesrah~

Bagaimana ya, sesuatu hal yang kecil dan bisa dibilang sederhana, dan nanti kalau aku sudah berkelurga, jauh dari ayah, pasti itu akan jadi kenangan yang bisa bikin senyum-senyum sendiri. Kalau aku, daddy’s little girl banget, dan ayah itu menyebalkan karena orangnnya ga tegaan. (Jadi ikut SM3T-pun tidak diiizinkan, FYI).

Dan walaupun sudah semester akhir begini aku masih sering diantar-jemput ayah. Diantara teman-teman satu jurusan mungkin bisa jadi aku satu-satunya yang masih diantar jemput ayah. Aku menikmati ketika beliau suka cerita-cerita tentang mahasiswanya yang lucu-lucu, yang menyebalkan dan lain-lain, lalu kami ngakak-ngakak di sepeda montor. Kalau tidak sedang mengobrol, ayah pasti ngebut. Kalau aku jadi mama, pasti sudah teriak-teriak.

Aku sering diantar jemput bukan aku manja, tapi ada suatu cerita yang bikin aku merasa berhutang budi banyak hal kepada ayah dan aku masih belum bisa melakukan apa-apa.

Suatu ketika ayah bertemu dengan temannya yang sesama dosen ketika lari pagi, jadi otomatis mereka lari bersama sambil cerita-cerita. Anak dosen itu sekarang sudah kerja, dan beliau merasa waktu berlalu begitu cepat. Dulu sering mengantarkan ke sekolah, tetapi sekarang sudah mandiri-mandiri. Jauh-jauh dari rumah. Kemudian ayah berkata, “Nah kapan lagi bisa mengantarkan anak, nanti kalau sudah lulus, kerja, ngga satu rumah, udah sendiri-sendiri. Kapan lagi bisa mengantarkan anak sekolah.”

Hal sekecil itu, menjemputku pulang dari kuliah malam-malam atau mengantar pagi-pagi, yang aku pikir ayah pasti males atau capek, itu ternyata salah satu hal yang malah membuat beliau senang.

Dan dalam hati aku terharu.

(late post untuk memperingati hari ayah ā¤)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s