Liquor – Ceritera Agustus #4 DdTJ

Uci menguap. Lalu ia mengucek-mengucek matanya dengan harapan kantuknya akan segera hilang. Dirasa-rasakan tangannya yang basah dan dia sungguh terkejut ketika mendapati ada darah di kepala, lengan, dan telapak tangannya. Dia sungguh tak tahu mengapa darah-darah itu bisa ada di tubuhnya. Beribu pertanyaan membuncah di kepalanya, darah siapa ini? Apakah ini darahnya? Mengapa dia sampai berdarah? Apakah ada yang membunuhnya? Ataukah dia bunuh diri? Atau jangan-jangan ini darah orang lain. Kalau darah orang lain mengapa darah itu ada padanya? Jangan-jangan dia telah membunuh orang. Dia bergidik, dia merinding, dia ketakutan. Dia mencoba memeras otak, berpikir dengan keras kejadian yang terjadi hari ini. Menelaah dengan teliti lapisan memori otaknya, mencoba mengurut kejadian-kejadian hari ini. Namun dia tidak ingat sama sekali sekarang sudah hari apa.

Dia meraih jam beker di sebelahnya dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Entah sudah berapa lama dia tertidur. Entah 12 jam, entah 24 jam. Beberapa botol Smirnoff berceceran di kamar apartemennya. Tak heran jika efek hangover ini tak kunjung hilang. Dengan langkah terhuyung-huyung dia menuju kamar mandi dan segera menuju wastafel. Dimuntahkannya sisa-sisa makan malam. Lalu dibersihkannya sisa-sisa darah di wajah, rambut, dan tangannya. Bau amis dan anyir di sekujur tubuhnya membuatnya ingin ia muntah kembali, namun sudah tak ada sisa-sisa makanan di dalam tubuhnya untuk dimuntahkan. Dilepaskannya kemeja putih dan celana pendek yang sudah penuh darah itu. Terdapat bekas-bekas cakaran di bagian pahanya, tetapi dia sungguh tak ingat apa yang terjadi.

Lalu, dengan langkah terhuyung-huyung pula dia menuju ke bath up yang ada di belakang wastafel yang sudah penuh darah kececeran itu. Dia menyibak gorden bath up dan untuk kedua kalinya dia terkejut bahwa disana sudah ada mayat wanita. Rambut merahnya terbenam dalam air menyatu dengan merahnya darah. Seketika dia mengingat apa yang terjadi kemarin yang membuatnya bangun dengan mendapati ada darah dan bau anyir dimana-mana. Dia ingat.




“Oh, semudah itu kamu ninggal-ninggal aku, bi? Selama ini aku yang ndukung-ndukung kamu. Kita susah-susah bareng sampai kamu udah punya bar sekarang. Terus ..”

“Itu ci, itu. Kamu bawel, over protective, gila..”

“Kamu yang gila!” Uci menaikkan nada bicaranya. Dia tidak sadar bahwa suaranya setengah terdengar oleh seluruh penghuni kos-an Robi. Lalu dengan setengah menangis dia melanjutkan kata-katanya dengan penuh amarah.

“Bi, Robi. Please, please dengerin aku. Liat mataku.” tangannya menggenggam tangan Robi erat-erat. “Aku marah karena aku sayang kamu, Bi. Seluruh hidupku, waktuku, semua udah tercurahkan buat kamu.” Kemudia dengan berbisik dia melanjutkan. “Badanku, Bi. Badanku juga. Kau bisa menggunakannya sepuasmu. Aku mencintamu. Bi, kita bisa seneng sama-sama lagi. Membesarkan anak bersama-sama..”

“Anak?”

“Aku pikir aku udah bilang kemarin. Bi, kita punya anak.” ujar Uci girang, namun Robi segera menghempaskan genggaman tangan Uci.

“Bohong. Itu bukan anak aku. Bisa aja itu anak … anak Ikbal! Kamu kemarin pulang bareng sama Ikbal kan?”

“Nggak, itu anak kamu dan kemarin Ikbal antar aku cuman karena kamu ga balas telfon aku.”

“Alasan. Udah, aku mau jemput Ica.”

“Rob, Robi!”

Laki-laki berpawakan kurus tinggi itu meninggalkan Uci begitu saja di depan kamar kosnya. Tangannya berkeringat dingin. Memang dia bohong tentang persoalan anak itu agar Robi tak meninggalkannya, namun tentang cintanya itu dia tidak pernah berbohong.  Dia menatap pintu kamar Robi. Pintu kamar yang biasanya ia kunjungi. Pintu kamar tempat orang yang ia sayangi tinggal. Pintu yang kini ia benci. Dia masih sangat tertegun Robi lebih memilih Ica, saudara kembarnya itu. Dia masih heran, padahal dia dan Ica benar-benar kembar. Yang membedakan hanya rambut mereka saja. Uci berambut hitam, sedangkan Ica berambut hitam kemerahan. Lainnya, mereka benar-benar sama. 

Atau, bisa saja Ica yang merebut Robi. Atau, bisa saja Robi sebenarnya setia, tetapi Ica yang terlampau kurang ajar dan menggodai Robi sehingga Robi jatuh dalam pelukannya. Kurang ajar Ica. Kurang apa dia dalam hidupnya. Semua semuanya saja direbut olehnya. Mulai dari kasih sayangnya orang tuanya, teman-temannya, sampai sekarang pacarnya direbut oleh Ica.

Semua pikiran itu memenuhi pikirannya dalam perjalanan pulang ke apartemennya. Sesampainya di sana, tiba-tiba ada pesan masuk dari Ica.

‘Malam nanti aku ke apartemenmu yah, ada yang perlu kita bicarakan.’

‘Ya, terserah kau saja.’ Balas Uci.


Tok, tok, tok.

“Ci?”

“Iya, masuk.” Uci membukakan pintu saudaranya. Rambutnya berantakan, tangannya memegang sebatang rokok, matanya sembab. 

“Woa, udah cukup rokok hari ini.” Ica mengambil rokok itu dari tangan Uci dan membuangnya ke luar apartemen. Ica masuk ke dalam ruangan. Ruangan gelap itu penuh dengan asap rokok dan berantakan, lalu dia menyalakan beberapa lampu dan membersihkan botol-botol bir yang berserakan di meja. Dibuangnya botol-botol itu ke dalam sampah di dapur.

“Kamu konyol banget deh, Ci. Cuma karena Robi kamu berantakan kayak gini.” katanya sambil membersihkan baju-baju yang berantakan.

“Enak ya ngomong doang.”

“Maksud kamu?” Ica menghentikan gerakannya.

“Robi udah milih kamu. Seutuhnya. Enak ya, kamu rebut-rebut dari aku.”

“Kamu ngayal ya, Ci. Kita itu kembaran. Saudara sehidup semati selamanya. Aku ga bakal rebut Robi dari kamu. Udah kamu minum obat ini dulu aja biar efek mabuk kamu itu ilang, biar bisa mikir jernih. Nih. Aku mau pake kamar mandi dulu.”

Ica memberikan sebuah pil berwarna putih ke saudara kembarnya, lalu pergi ke kamar mandi. Dengan ragu, Uci memasukkan pil itu ke dalam mulutnya. Ketika hendak menelan, dia melihat handphone Ica menyala-nyala. Dengan rasa penasaran dia membuka handphone itu.

‘Jangan lupa beri dia pil itu. Setelah dia mati, kita bisa bersama selamanya.’

Dengan segera Uci memuntahkan pil yang ada dilidahnya. Untung saja dia belum menelannya. Dia segera menyembunyikan pil itu di dalam sofa yang ia duduki, kemudian meletakkan handphone Ica seperti sedia kala dan bersikap seperti tidak ada apa-apa. Tak lama kemudian, Ica datang dnegan senyuman.

“Gimana, udah pilnya?” sambil duduk di sebelah Uci.

“Udah.” Uci tersenyum. 

Dengan perlahan dia mengambil bantal sofa yang ada disebelahnya, lalu dengan cepat dia membekap Ica. Ica memberontak. Tangannya menyakar-nyakar paha Uci dan merogoh-rogoh botol vodka yang ada di samping kakinya. Pyar! Dia memecahkannya di kepala Uci. Uci terhuyung-huyung. Darah mengalir dari keningnya menuju sekujur tubuhnya, lalu dia terjerembab ke lantai.

Jantung Ica berdegup dengan sangat keras. Pelan-pelan dia mengatur nafasnya dan mengambil pecahan botol vodka. Uci mengerahkan seluruh kekuatannya dan berlari menuju dapur. Diambilnya sebatang pisau. Tepat ketika ia menoleh kebelakang, Ica hendak menusuknya dengan pecahan botol itu. Namun Uci lebih cepat. Ditusuknya perut Ica dengan pisau itu. Didorongnya saudaranya hingga jatuh terjerembat. Ditusuknya lagi, ditusuknya lagi. Dia tertawa keras-keras. Darah mengalir dari perut Ica yang sudah tak bernyawa. Dilihatnya baik-baik warna merah derah yang mengalir itu. Betapa indahnya, pikirnya. Dibauinya darah saudaranya itu, lalu ia tusuk-tusuk lagi.

Darah, darah, dan merah.

Lantas tiba-tiba ia sadar, hendak dikemanakan tubuh itu. Lalu ia menyeretnya perlahan-lahan dan memasukkannya ke dalam bath ub. Diambilnya botol-botol vodka yang dibuang Ica di dalam sampah, dia tenggak semuanya, lalu ia tertidur begitu saja.


Dia ingat, dia ingat semuanya. Efek hangover telah hilang dari kepalanya. Digantikan oleh perih keningnya yang terluka oleh pecahan kaca. Kesadarannya kembali seutuhnya. Dia menangisi Ica. Dia mulai merasa kehilangan separuh jati dirinya. Lalu ia mengambil pil putih yang ia selipkan di sofa. Ia tenggak itu dan kembali ke bath up. Diraihnya tangan saudaranya, lalu ia menggenggamnya. 

Dan dalam kedamaian mereka kembali bersama dalam kesunyian.


_________________________________________________________________________________




Writing prompt #CeriteraAgustus. Merasa endingnya kurang greget dan judulnya apa banget 😐 Kritik dan saran needed. :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s