Prompt #84 – Bapak



Alarmku berbunyi pukul lima pagi. Hari ini liburan terakhirku dan malam nanti aku harus segera kembali ke kantor. Setelah merapikan kasur, packing, dan mandi, aku menuju dapur untuk sarapan.

“Paak, bapak?” Bapak tetap tidak menyahut. “Bapak sedang apa bu?”

“Biasa, masih tempat kerjanya. Sudah sejak semalaman tadi.”

“Bapak masih tetap tidak mau menemuiku, bu. Padahal besok aku sudah tidak ada disini dan baru satu tahun lagi aku baru kembali.”


“Kamu sudah 27 tahun hidup dengan bapakmu yang autis itu. Sekali lagi Ibu akan bilang, bahwa Autis itu bukan penyakit, Na. Autis itu tidak bisa disembuhkan. Kamu hanya bisa memahami dan memaklumi.”

Aku hanya terdiam oleh kata-kata ibu. Aku sebenarnya sangat merindukan bapak yang dulu. Bapak yang ceria, bapak yang suka cerita, dan bapak yang yang suka mengajak aku dan anakku bermain ayunan di taman. Bapak sangat suka bermain di sana, karena kata bapak semua tumbuhan dan bunga-bunga di sana suka berbicara dengan bapak. Lalu, semenjak anakku yang masih berumur 3 bulan itu meninggal, bapak tak pernah lagi pergi ke taman. Bapak lebih suka menyendiri di gudang yang lebih sering ia sebut ruang kerjanya. Disana dia membuat boneka-boneka bayi yang mirip dengan anakku dan boneka-boneka lainnya yang dia pikir anakku akan suka. Bapak menyendiri dalam diamnya, dalam kesendiriannya, hingga aku dan ibu semakin khawatir.

“Bu, aku antar sarapan ini ke bapak ya?”

“Iya, Na. Jika kau ingin bicara dengan bapakmu, pelan-pelan saja, ya? Ibu tahu kamu merindukan bapak yang dulu. Ibu sendiri juga begitu. Namun biarkanlah waktu yang menyembuhkan perasaan bapak. Jangan memaksa bapak.”

Aku mengangguk, lalu bergegas menuju ruang kerja bapak sambil membasa segelas susu kental manis dan roti selai coklat.

Tok! Tok! Tok! Lalu pintu aku buka. Satu tahun semenjak kematian Linda, rupanya bapak telah memenuhi lemari-lemari kaca dalam ruangan itu menjadi penuh boneka bayi dan mainan. Bapak telah menyulap ruangan yang dulu kosong melompong menjadi seperti taman bermain anak-anak yang penuh dengan boneka lucu.

“Yang itu mirip Linda.” Aku menunjuk sebuah boneka. Bapak hanya mengamati sebentar boneka itu, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Pak, ayo makan dulu.”

“Susu. Bosan.”

“Bapak mau apa?”

Bapak hanya diam. “Bapak bicara sama Linda.”

“Pak, itu hanya boneka yang bapak buat. Ayo bapak makan dulu.”

“Linda bilang Ana bunuh Linda.”

“Pak, Linda itu ..”

“Ana bunuh Linda. Ana bunuh Linda. Ana bunuh Linda.” sahut bapak dengan suara yang makin keras dan keras.

Aku panik. Aku panik ibu akan mengetahui semuanya. Aku bekap hidung dan mulut bapak persis seperti yang aku lakukan pada Linda sambil memberi pengertian bahwa aku hanya ingin Linda diam dan berhenti menangis. Bapak meronta-ronta dan tiba-tiba bapak terdiam. Tanganku bergetar. Aku mengecek urat nadi di leher bapak, dan tidak ada .. detak jantung.

“Aku .. aku tak sengaja, pak! Pak, bapak, bangun pak!” Hidung bapak membiru.

“Ada apa na?” Ibu memanggil dari luar gudang.

“Bapak .. bapak tertidur.”

Lalu aku menutup pintu itu rapat-rapat.

______________________________________________________________________________

473 kata :)) ditulis untuk Monday Flashfiction – #prompt84 Si Pembuat Boneka

Advertisements

8 thoughts on “Prompt #84 – Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s