OSPEK – Ceritera Agustus #2 TKBMHTK

Laki-laki itu, memesonaku sejak awal aku melihatnya berdiri di atas panggung dan meneriakkan yel-yel, tentang kemerdekaan, tentang persatuan, tentang kebebasan, tentang berbagai macam wacana yang tidak mampu aku rengkuh dalam sekali teguk. Tetapi dia, yang berahang teguh, berkulit terang dan bermata tajam itu, berhasil meraih aku dalam satu kejap rengkuhan ketika entah dari mana batu-batu berjatuhan.

“Dek! Gausah cengengesan! Baris yang bener. Senyam-senyum. Mau saya hukum?”

“Nggak kak.” Senior itu menghentikan imajinasiku tentang Kak Adit. Aku menundukkan kepalaku hingga aku bisa melihat warna kaos kakiku yang beda warna. Satu biru dan satunya merah muda. Setelah Kakak senior itu pergi, aku kembali mengintip Kak Adit, Presiden Eksekutif Mahasiswa tahun ini yang sedang berkoar-koar tentang nasionalisme bangsa ini yang semakin bobrok. Bahasanya meyakinkan aku bahwa dia mahasiswa senior yang super idealis. Sehingga membuat aku tidak dapat mencerna kata-kata itu. Yang dapat aku cerna adalah wajahnya yang sangat teduh dan gaya bicaranya yang khas orang jabotabek.

“Mahasiswa adalah agent of change! Merdeka!” sahut Kak Adit. Tiba-tiba saja pidatonya sudah selesai. Aku tertawa dalam hati. ‘Agent of change ya? Goblok. Kalau mau jadi agent of change yang bener, hentikan kebodohan ini.’

Rasa hormat dan segala pesona Kak Adit itu pun hilang. Lama-lama aku benci Kak Adit, toh dia sama saja seperti senior yang lain. Meneriakkan segala macam bualannya, mahasiswa sebagai agent of change, tapi tak mampu mengubah tradisi dalam kampus. Aku pikir aku bodoh sekali aku termakan oleh pesonanya. Bukankah jika ia Presiden Eksekutif Mahasiswa, maka dia yang mengatur segala kegiatan peloncoan ini beserta dengan panitia-panitianya.

“Dipercepat dek dipercepat!” Tiba-tiba senior-senior itu sudah meneriaki kami. Rupanya aku tidak dengar ketika MC memberitahukan kami kalau kami harus pindah menuju Gedung Senat untuk kegiatan selanjutnya.

Apanya yang dipercepat kak. Padahal kami yang perempuan memakai rok kulot yang membuat kami harus anggun dan pelan-pelan melangkah. Lalu kami mempercepat langkah kami dan sedikit berlari, namun kakak senior itu kembali menggong-nggong.

“Gausah lari dek, gausah lari!”

Lalu yang lain kembali menyahut, “Dipercepat dek dipercepat!”

Kami semakin lelah dengan maksud kakak-kakak galak itu. Aku melihat teman-teman seperjuanganku. Kami sama-sama berpeluh, takut, dan hina. Dan kami lebih mirip orang gembel dari mahasiswa-mahasiswa baru. Aku sendiri tak takut dengan mereka, tak pula menantang karena aku tak ingin adu mulut dengan mereka, karena dimana-mana peraturan senior dalam ospek itu ada dua, yaitu: (1) Senior tidak pernah salah dan (2) Jika senior melakukan kesalahan, maka kembali pada peraturan pertama. Sungguh otoriter sekali dan kekuasaan mutlak. Mungkin mereka rindu dengan orde baru.

Akhirnya sampailah kami di Gedung Senat itu. Biasanya gedung ini dibuat untuk konser-konser band. Aku tahu karena aku sering datang ke gedung ini untuk menonton segala macam konser itu sampai pagi. Kebiasaan burukku yang tidak pernah mengindahkan kata ibu untuk pulang lebih awal. Sungguh, aku tak percaya aku sangat merindukan omelan ibu. Dan aku berjanji kepadanya untuk tidak macam-macam di kota rantau ini.

Biasanya Gedung Senat ini mampu menampung 700-800 orang, tetapi sekarang gedung ini ditempati lebih dari 1000 orang. Kamu bisa mencium bau ketiak-ketiak para maba (mahasiswa baru) dan abab-abab senior galak. Para maba tidak diperbolehkan mencopot almamater. Semua campur aduk menjadi satu. Yah mau bagaimana lagi. Kampus kami hanya mempunyai satu gedung dan ospek universitas hanya diadakan satu hari. Jadi semua tumplek blek menjadi satu.

“Maju dek maju!”

“Cepetan!”

“Almamater nggak boleh dicopot. Heeey itu, dipake dipake!”

“Woy temanmu yang belakang gak dapat tempat duduk.”

“Tasnya dipangku! Tasnya dipangku!”

Senior-senior itu kembali memerintahi kami. Sungguh, mereka hanya berdua-puluh dan kami ada seribu. Jika kami mau kami bisa saja menyerang mereka membabi buta.

Kami duduk berhimpit-himpitan sambil memangku tas yang berat. Aku menoleh sekeliling. Semua manusia bermuka masam dan penuh dengan ketegangan. Come on! It should be fun. Kami berhasil masuk di universitas ini dengan susah payah, seharusnya disambut dengan cara baik-baik kan? Kepalaku menjadi pusing terkena bau ini itu dan melihat kumpulan manusia berjejalan dimana-mana. Dadaku lumayan sesak. Dengkulku pun menjadi linu karena harus duduk sila. Aku kembali membenci Kak Adit yang membuat kami seperti ini.

“Sekarang kita makan dulu dek. Makan roti kacangnya masing-masing.”

“Semua rotinya diangkat. Ada yang ga dibawa?”

Mampus. Pikirku. Aku mengangkat roti tawarku perlahan-lahan.

“Oke, diturunkan rotinya. Silahkan dimakan. Waktunya lima menit. Sampah ga boleh kececeran. Dimulai dari sekarang. Cepatan!”

Mampus. Roti kacang.

Semua membuka bungkus roti plastiknya dan aku bisa mendengar gremesek plastik di dalam gedung. Aku menutup hidungku kuat-kuat. Bau aroma kacang ada dimana-mana.

lalu salah satu senior melihatku dan mulai berteriak, “Dek, dimakan! Waktu kamu satu menit lagi. Cepetaan!”

Aku menggelengkan kepala keras-keras sambil masih menutup hidung dan mulut.

“Dek, waktu kamu tinggal dikit. Kalau nanti pingsan jangan salahkan saya ya!”

Aku mulai kewalahan. Aku meraba bibirku yang sudah membengkak. Aku angkat tangan dan melepas salah satu tanganku yang semula menutupi hidung. “Tolong kak! Saya alergi kacang!”

Kakak itu terlihat shock. Memanggil teman-teman panitia divisi kesehatan lalu menunjuk ke arahku. Aku mulai kesulitan bernafas. Mereka pun kesulitan menjangkauku karena tidak bisa lewat. Salah mereka sendiri menempatkan para maba berhimpit-himpitan tanpa ada jarak. Pandangan mataku mulai kabur. Kakak-kakak divisi kesehatan membopongku keluar gedung. Pandanganku mulai kabur. Aku masih bisa melihat Kak Adit dengan handy talkie-nya memanggil ambulans. Lalu semuanya tiba-tiba menjadi gelap.

_____________________________________________________________________________________________

844 kata. Ditulis untuk Prompt Kampung Fiksi 🙂

Advertisements

2 thoughts on “OSPEK – Ceritera Agustus #2 TKBMHTK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s